Kenaikan tajam IHSG pada hari pertama perdagangan saham tahun 2009 kemarin telah sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar menyusul melonjaknya mayoritas indeks bursa saham global pada momentum yang sama. Sejumlah besar saham, terutama saham-saham komoditas, menguat lebih dari 10% dengan beberapa diantaranya hingga atau dekat batas autorejection atas 20% seperti AALI, UNTR, ITMG, INCO, DEWA dan TINS. Otoritas bursa belum merealisasikan rencananya untuk membuka batas atas dan bawah auto rejection kembali ke batas normal sebelum krisis yaitu hingga 30%. Penguatan indeks
semakin bertambah pada sesi kedua bursa setelah BPS mengumumkan figur inflasi Desember yang mencatat deflasi sebesar 0,04% dengan inflasi setahun sebesar 11,06% atau sedikit dibawah target APBN-P yang sebesar 11,4%.
Penurunan inflasi memperbesar harapan pemodal akan turunnya kembali suku
bunga sehingga saham-saham yang sensitif seperti saham perbankan dan otomotif pun kembali diburu. Harga saham BBRI, BMRI, BDMN dan ASII mencapai level tertinggi barunya pasca krisis. Harga saham BBCA bahkan tertinggi sejak Februari 2008 atau jauh lebih tinggi dari harga pra-krisis.
Memasuki pergantian tahun pelaku pasar global menemukan kepercayaan diri yang lebih baik akan pulihnya perekonomian dari krisis ekonomi terburuk sejak Depresi Besar 1930. Kepercayaan pasar berangkat dari campur tangan pemerintahan global yang secara aktif dan agresif memberikan stimulus karena roda perekonomian yang dijalankan sektor privat terhenti oleh krisis kredit. Paket stimulus ekonomi Amerika yang diusulkan oleh ekonom kepada Obama mencapai US$1,3 triliun, namun Obama kemungkinan akan mengajukan stimulus sebesar US$775 miliar, termasuk pemotongan pajak sebesar US$300 miliar.
Pemerintahan SBY yang memiliki anggaran lebih karena turunnya subsidi BBM
pun telah mengucurkan stimulus fiskal berupa PPN dan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah sebesar Rp12,5 triliun kepada 31 sektor industri. Naiknya harga sejumlah komoditas seperti CPO dan batubara dalam beberapa pekan terakhir juga dapat mengindikasikan perekonomian masih tumbuh untuk menyerap komoditas tersebut. Agresi militer Israel kemudian menjadi katalis yang mempercepat kenaikan harga komoditas lainnya, terutama minyak mentah.
Penembusan neckline 1.380 akhirnya mengkonfirmasi pola double bottom pada IHSG yang saat ini berpeluang menuju target barunya disekitar level 1.470.
Timah (TINS) menargetkan pendapatan tahun ini sama dengan pendaoatan tahun lalu. Harga komoditas timah yang tidak menentu menyebabkan perseroan tidak berharap banyak terhadap pertumbuhan 2009. Penjualan 2008 diperkirakan hanya mencapai Rp 6.8 triliun dibanding 2007 sebesar Rp 8.5 triliun, smentara laba bersih diperkirakan hanya mencapai Rp 6.8 triliun dibanding 2007 sebesar Rp 8.5 triliun.
Bumi Resources (BUMI) melalui anak perusahaan Bumi Resources Investment mengakuisisi 80 % saham Zurich Asset Investment Ltd. Penandatanganan pembelian saham dilakukan antara Bumi Resources Investment dengan Goodrich Management pada 23 Desember 2008. Dengan demikian, BUMI secara tidak langsung menguasai 44 % saham Darma
Henwa T (DEWA) karena Zurich merupakan pemilik 55 % saham DEWA. Total saham kepemilikan BUMI bakal bertambah menjadi 64,43 persen karena sebelumnya sudah menguasai 20,43% saham.
Laba bersih per september 2008 Bakrie & Brothers (BNBR)naik 439,7 % menjadi Rp885,739 miliar dari Rp164,11 miliar di periode sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan naik menjadi Rp6,38 triliun dari Rp3,28 triliun dan laba usaha
menjadi Rp952,15 miliar dari Rp540,15 miliar. Perseroan meraih pendapatan lain-lain Rp125,71 miliar dari beban lainlain Rp152,17 miliar sehingga laba sebelum pajak menjadi Rp1,077 triliun dari Rp387,97 miliar.
Medco E& P anak usaha Medco Energi Internasional (MEDC) tahun ini menyiapkan capex sebesar USD 325 juta, lebih besar dari tahun lalu yang sebesar USD 225 juta. Perseroan memperkirakan produksi minyak dan kondensat pada tahun 2009 akan turun dibandingkan tahun lalu. Pada tahun 2009, produksi minyak ditargetkan 39.000 barel per hari atau turun dibandingkan 2008 yang 43.000 barel per hari.
Pada tahun ini, belanja modal dialokasikan mencapai 325 juta dolar AS atau naik dibandingkan tahun 2008 yang 225 juta dolar AS. Selain itu Medco masih menunggu perpanjangan Blok A selama 20 tahun. Kontrak kerja sama Blok A akan habis tahun 2009. Sesuai target, Blok A akan mulai berproduksi gas tahun 2011 sebesar 110 juta kaki kubik per hari. Medco sudah menandatangani kontrak pasokan gas dengan pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan PT PLN (Persero).
Darma Henwa (DEWA) menguasai 85% saham SumbawaBarat Sejahtera Bersama (SBSB) yang memiliki kuasa pertambangan seluas 23 ribu ha di Bukit Baru Biru Brang Rea dan Brang Ene Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, sementara sisanya dimiliki pemerintah kabupaten Sumbawa Barat. Perseroan ingin secepatnya melakukan eksplorasi tapi untuk sementara hanya akan melanjutkan aktivitas operasional yang
sudah dijadwalkan.
Qatar Telecom (Qtel) akan mengajukan prospektus rencana penawaran tender (tender offer) 24,2% saham publik Indosat (ISAT) ke Bapepam-LK paling lambat pada 9 Januari 2009. Qtel telah memberikan komitmen untuk mendaftarkan pelaksanaan penawaran tender kepada Bapepam pada pekan pertama 2009.
4 bank menyatakan kesanggupannya untuk mendanai capex Telekomunikasi Indonesia (TLKM) sebesar Rp8 triliun. Keempat bank tersebut yakni Bank Tabungan Negara, Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Nasional Indonesia (BBNI), dan Bank Mandiri (BMRI). Secara informal, bankbank tersebut menyanggupi rencana Telkom mencari dana (Capex) sebesar Rp8 triliun.
Excelkomindo Pratama (EXCL) mengajukan penawaran harga 10% lebih murah untuk penambahan spektrum frekuensi 3G dari harga yang ditetapkan Depkominfo sebesar
Rp 160 miliar per 5Mhz. Perseroan dapat mengajukan keberatan yang disertai data pendukung yang kuat jika menginginkan harga penambahan spektrum 3G dibawah harga
yang diputuskan Depkominfo.
Adhi Karya (ADHI) memproyeksikan pertumbuhan proyek infrastruktur tahun 2009 mencapai 15% dari tahun lalu. Apalagi perseroan masih ditopang beberapa proyek carry over alias yang masih akan berlanjut dan selesai di 2009.
Sementara untuk pendapatan tahun ini perseroan menargetkan meraih Rp6,7 trilyun ketimbang tahun 2008 yang dipatok Rp6 trilyun. Diharapkan laba bersih tahun 2009 bisa mencapai Rp160 milyar atau naik sekitar 10 % dari target tahun ini. Kinerja perseroan tahun ini masih akan ditopang dari proyek jalan tol Kanci-Pejagan sepanjang 3,2 km yang menelan biaya Rp900 milyar plus pengadaan Tabung Gas LPG
3 kg dengan nilai kontrak Rp1,6 trilyun, pembangunan PLTU Lampung 2x100 MW dengan nilai kontrak Rp2 trilyun dan proyek Pemkab Bandung dengan nilai kontrak Rp335 milyar.
Belum lagi ditambah proyek-proyek konstruksi di Timur Tengah. Jasa Marga (JSMR) menuding Marga Nujyasumo Agung (MNA) telah membatalkan perjanjian kerja proyek tol Surabaya - Mojokerto secara sepihak, karena pembatalan tersebut tidak
disertai penjelasan yang menyebutkan Jasa Marga bertindak tanpa mengacu pada perjanjian yang ada. Perseroan menyatakan sebagai salah satu pemilik saham MNA sudah
seharusnya perseroan mendapatkan prioritas untuk meningkatkan kkepemilikanya di MNA.
Manajemen Bank Mandiri (BMRI) mengincar perolehan Return on Equity (ROE) sebesar 18.8% pada tahun ini lebih besar dari tahun lalu sebesar 18%. Seiring dengan penurunan suku bunga NIM 2009 juga akan dijaga diatas 5.3%. Perseroan juga berencana melakukan akuisisi bank kelas menengah pada kuartal II.
Kalbe Farma (KLBF) telah membeli kembali 74,001 jutasahamnya senilai Rp30,032 miliar hingga 30 Desember 2008. Pembelian kembali saham (PKS) tersebut dilakukan oleh
Danareksa Sekuritas. Sementara jumlah saham yang akan dibeli kembali perseroan maksimum 518,339 juta unit (5,1%) dari saham disetor. Pembelian kembali saham untuk
meningkatkan kinerja saham perseroan di BEI, menaikan nilai laba bersih per saham dan rasio laba bersih terhadap modal sendiri, serta menjaga stabilitas harga saham.
Pertiwi Indonesia selaku pemegang saham Central Proteinatama (CPRO) menjual lebih dari separuh jumlah saham (11.38 miliar saham) kepada 6 pihak: Raintrees Assets
Inc, Bedarra Ventures Inc, Tara group Inc, Arcotel Pacific Ltd, Elite One Corporation dan Enchanted Rise Investnents.
Akibat Krisis global Suryaintrindo Makmur (SIMM) mengalami penurunan pesanan hingga 80 %. Penurunan pesanan ini akibat adanya pembatalan pesanan yang terlihat
pada laporan september 2008. Hal ini mendorong perseroan menawarakan program pengunduran diri kepada karyawan yang berniat mundur dan hingga kini sudah terlaksana
sebanyak 1800 karyawan.
HD Capital (HADE) memproyeksikan rugi bersih tahun 2008 mencapai Rp 10 miliar dibanding tahun sebelumnya yang meraih laba bersih Rp 32.71 miliar. Kerugian terjadi akibat pendapatan jasa broker saham turun setelah IHSG anjlok,padahal bisnis broker memberikan sumbangan sebesar 60% terhadap pendapatan konsolidasi.
Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart), akan menawarkan 343,2 juta saham pada penawaran perdana ke publik. Saham bernominal Rp100 ditawarkan pada 7-9 Januari 2009 dengan harga Rp395 per saham. Seluruh hasil penjualan saham itu akan digunakan untuk ekspansi bisnis, terutama di bidang distribusi barang-barang dan pembukaan gerai-gerai baru.
Penawaran perdana saham Alfamrt telah memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam pada 31 Desember 2008. Direksi telah menunjuk Ciptadana Securities dan Indopremier Securities sebagai penjamin emisi (underwriter). Saham Alfamart akan dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 15 Januari 2009.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi pada tahun 2008 sebesar 11,06%, sedangkan khusus untuk bulan Desember terjadi deflasi sebesar 0,04%. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan pada penurunan indeks kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 2,74%. Sementara yang mengalami kenaikan harga adalah kelompok bahan makanan 0,57%, dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,52%.
BEI mempertimbangkan delisting 2 emiten pada kuartal I 2009. Kedua emiten ini adalah Asia Natural Resources (ASIA) dan Jaka Inti Realtindo (JAKA). BEI hingga kini
masih memantau komitmen manajemen perseroan terkait kelangsungan bisnisnya. BEI memberikan tenggat hingga akhir Q1 2009 untuk meningkatkan aktivitas usahanya, apabila hingga waktu tersebut dianggap tidak memenuhi persyaratan akan di-delisting. Sementara untuk saham Asia Natural Resources (ASIA) yang disuspen sejak Maret 2006, BEI masih menunggu realisasi rencana bisnis baru perseroan yang merambah bisnis pertambangan.
Selasa, 2009 Januari 06
News hari ini
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar