Senin, 27 Oktober 2008

MKBD Sekuritas Dekati Batas Minimal

Modal Kerja Bersih Dasar (MKBD) sejumlah perusahaan sekuritas semakin mendekati batas minimal yaitu Rp25 miliar akibat anjloknya pasar modal selama beberapa pekan terakhir.

"Memang ada beberapa perusahaan sekuritas yang MKBD-nya sudah tipis, tapi belum ada yang sampai di bawah batas," ujar Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah di Jakarta, Senin (27/10/2008).

Sayangnya, Erry belum dapat menyebutkan nama-nama perusahaan sekuritas yang dimaksud. Namun yang jelas, jika ada yang sampai menembus batas minimal MKBD sebesar Rp25 miliar, BEI akan melakukan penghentian sementara (suspensi) aktivitas perantara perdagangan saham mereka. "Sampai saat ini kita belum temukan ada yang melewati batas minimal. Jadi belum ada yang akan disuspensi," ujar Erry.

Mengenai kemungkinan dilakukan revisi batas minimal MKBD khusus dalam kondisi darurat, Erry menyatakan hingga saat ini belum ada rencana

Baca Lebih Lanjut......

Hot Market

1 Pertemuan G-20 di Washington tentang finansial global direncanakan pada November 2008.
2 KTT ASEM ke-7 di Beijing menyepakati melakukan perombakan komprehensif dan efektif terhadap sistem moneter dan finansial internasional.

3 Pertemuan G-20 pada 15 November mendatang di Washington.
4 Harga minyak melemah ke bawah USD 70/barel,
5 Pertemuan darurat OPEC pada 24 Oktober menyepakati pemangkasan produksi minyak sebesar 1,5 juta bpd.
6 OPEC meeting reguler 18 November 2008.
7 Asian Development Bank (ADB) memperkirakan harga minyak akan kembali naik
8 Goldman Sachs memperkirakan harga minyak bisa mencapai USD 149/barel di akhir tahun.
9 FOMC 29 Oktober 2008.
10 Merrill Lynch & Co. memperkirakan ekonomi Asia akan tumbuh 7,7% tahun 2008 ini dibanding perkiraan awal sebesar 7,9%.
11 Merrill Lynch men-downgrade forecast GDP Indonesia untuk tahun 2008-2009 menjadi 5,8%-6%.
12 Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada 2008 dan 6,2% pada 2009.
13 Survei Bank Indonesia : Pertumbuhan ekonomi pada Q3 2008 diperkirakan 6,1%-6,5% dibanding dengan actual growth 6,5% YoY.
14 Pemerintah : Setelah kenaikan harga BBM, inflasi tahun 2008 sebesar 11,2% YoY dari proyeksi sebelumnya 6,5%.
15 Bank Indonesia optimis laju inflasi akhir tahun 11,5%-12,5% dan pada 2009 sebesar 6,5%-7,5%.
16 ADB memperkirakan inflasi Indonesia tahun 2008 tetap double digit.
17 Bank Dunia akan menyediakan bantuan hingga USD 2 miliar per tahunnya selama 4 tahun hingga 2012.
18 Implementasi aturan Basel II akan diterapkan pada Januari 2009.
19 Tarif bea dan cukai rokok akan naik tahun depan.
20 Pemilu Presiden Indonesia I dijadwalkan pada 5 Juli 2009 dan Pilpres II pada 20 September 2009.
21 Pemilihan Presiden AS pada 4 November 2008 & pelantikan 20 Januari 2009.

Baca Lebih Lanjut......

News Hari Ini

Rebound di BEI pada 2 hari pertama perdagangan pekan lalu bukan berarti telah lepas dari sentimen negatif. Sentimen di Wall Street sendiri dipicu oleh seruan Ketua The Fed, Ben bernanke, agar pemerintahan Bush mengucurkan lagi paket stimulus II dalam bentuk rabat pajak senilai USD 168 miliar. Konggres AS mengawali dengan stimulus sebesar USD 150 miliar. Sentimen positif lain adalah LIBOR turun 36 bps, harga minyak naik ke USD 74/barel sehubungan dengan rencana OPEC untuk memangkas produksinya dan laporan keuangan positif beberapa emiten di US.

Setelah rebound karena imbas dari bursa Wall Street dan Asia, pada perdagangan tengah minggu, IHSG mengalami sell off. Diawali oleh profit taking, selanjutnya terjadi panic seling sejak sesi II dibuka. Kekhawatiran bahwa krisis keuangan global akan berdampak pada kinerja perusahaan-perusahaan telah menekan saham-saham di berbagai bursa dunia. US dolar melemah terhadap Euro dan Yen.
Depresiasi Euro terhadap US dolar dipicu oleh prediksi penurunan suku bunga ECB lebih cepat dari penurunan Fed Funds Rate, karena Eropa tidak akan membiarkan perekonomiannya makin terpuruk. Sementara nilai rupiah terdepresiasi dengan
cepat dan menembus Rp 10.000/USD pada perdagangan Jumat (24/10), meski Gubernur Bank Indonesia menyatakan akan tetap di pasar meski tidak bisa menentang aliran besar dana. Hal ini makin mendorong panic selling di bursa, sehingga IHSG terkoreksi 92,340 poin (-6,69%) ke titik nadir di level 1244,864. Level tersebut merupakan level terendah sejak pertengahan Juni 2006. Selain itu harga minyak mentah turun lagi ke level lebih rendah ke USD 66,75/barel mengabaikan pertemuan OPEC pada Jumat yang mengagendakan pemangkasan produksi antara 1-2 juta barel per hari. Result 9M08 beberapa emiten (PTBA, SMGR, MPPA) dan rencana corporate action emiten seperti tender offer (BNII, ISAT) serta cash offer BNGA tidak bisa mengimbangi sentimen negatif global yang kuat. Program buy back saham BUMN tidak ditunjukkan, meski harga saham BUMN terkoreksi hingga batas bawah autoreject. Sejumlah saham mengalami koreksi
hingga batas autorejection 10%, bahkan diantaranya terjadi berturut-turut selama
beberapa hari, antara lain UNTR, ASII, ELTY, UNSP dan BTEL. Pergerakan saham BMRI, BBRI juga terhambat karena berita bahwa emiten itu memiiki eksposure di Bank Indover sebesar Rp 400 miliar. Terakhir dketahui bahwa LPBN juga memiliki eksposure di Indover. Pihak perbankan meminta Bank Indonesia menyelamatkan bank Indover, tetapi BI terjepit pada peraturan yang melarang BI melakukan tindakanterhadap afiliasinya. DPR sendiri awalnya enggan memberikan persetujuan jika tidak di-‘backing’ oleh Presiden karena khawatir akan dituntut atas kemungkinan tudingan kasus ’BLBI II’ di masa datang. Meski DPR akhirnya menyetujui injeksi Indover oleh BI, tetapi dengan persyaratan tetap dilakukan investigasi atas Indover.
KTT ASEM ke-7 di Beijing pada 24-25 Oktober menyepakati segera melakukan perombakan komprehensif dan efektif terhadap sistem moneter dan finansial
internasional. Hasil KTT juga menyerukan kepada IMF agar segera mengambil peran utama dalam membantu negara-negara yang kesulitan keuangan. Hasil dari KTT ASEM tersebut akan dibawa ke pertemuan G-20 pada 15 November mendatang di Washington. Hal itu merupakan langkah bersama dari berbagai negara guna mengatasi krisis keuangan global. Amerika Serikat sendiri telah menyetujui dana sebesar USD 700 miliar untuk krisis keuangan di AS. Sementara Eropa menyetujui rencana dimana 15 negara bermata uang Euro dan Inggris sepakat mengumpulkan USD 2,3 triliun untuk menjamin sekaligus dana bantuan darurat bagi bank-bank yang lumpuh akibat krisis. Sedang Asia menggalang dana
USD 80 miliar sebagai dana darurat mengatasi krisis.
Sebenarnya sistem keuangan Asia tidak terlalu terguncang, karena tidak banyak
terkait langsung dengan masalah kredit macet perumahan AS. Namun yang dikhawatirkan adalah : 1) Terganggunya likuditas di pasar Asia terkait dengan penarikan dana oleh negara-negara AS dan Eropa, 2) Depresiasi mata uang negara Asia terhadap US dolar, 3) Dampak krisis keuangan di AS dan Eropa terhadap ekonomi negara Asia terutama bagi penurunan ekspor dan investasi asing.
Selanjutnya eskalasi krisis ini akan memukul ekspor, pendapatan perusahaan dan
pendapatan dari pajak. Pada akhirnya krisis ekonomi adalah momok yang paling ditakuti. Hal itu tidak saja berdampak pada sektor riil, tapi juga sektor non riil
seperti sektor keuangan dan bursa saham. Semua pihak tidak berharap kejadian ‘Great Depression’ Amerika Serikat pada tahun 1929 akan terulang. Pada saat itu ekonomi AS baru benar-benar pulih dalam 25 tahun kemudian. Langkah bersama berbagai negara yang diawali dari domestik dan regional, diharapkan bisa mengatasi krisis keuangan global ini, setidaknya menahan akselerasi menuju resesi ekonomi.
Pemilu Presiden US pada 4 November akan menjadi momentum bagi masa depan AS naik di bidang ekonomi, politik mau pun keamanan. Hal itu diperkirakan akan mempengaruhi ekspektasi investor. Hingga waktu pelaksanaan FOMC 29 Oktober dimana pertemuan G-20 juga telah dilaksanakan. Artinya, apabila seknario optimis sesuai ekspektasi, maka pembalikan momentum ke arah positif akan terjadi di tahun 2009. Namun sebaliknya jika eskalasi krisis keuangan meluas dan langkah langkah yang diambil tidak efektif, maka tahun 2009 akan menjadi tahun berat berikutnya. Berkaca dari krisis tahun 1997/1998, ekonomi Indonesia bangkit lagi dalam masa 2-3 tahun kemudian.
Pada 29 Oktober The Fed akan melaksanakan FOMC dan diindikasikan akan memangkas Fed Funds Rate sebesar 50 bps menjadi 1% bahkan kemungkinan bisa mencapai 75 bps. Hal itu ditujukan agar perekonomian AS tidak stagnan atau bahkan defisit pertumbuhan.
Namun perkiraan bahwa ECB juga akan memangkas suku bunganya lebih cepat/tinggi dari AS telah mendepresiasi Euro terhadap US dolar dan Yen. Akibatnya US dolar terapresiasi terhadap mayoritas mata uang dunia termasuk Rupiah. Hal ini menjadi dilema bagi Bank Indonesia, dimana di satu sisi diharapkan tidak menaikkan lagi BI rate, tapi di sisi lain BI berfungsi menjaga nilai rupiah didasarkan pada inflation targeting framework. Sementara intervensi ke pasar terkendala oleh masalah Bank Indover yang membutuhkan suntikan dana untuk menyelamatkannya. DPR telah menyetujui injeksi sebesar Rp 7 triliun dengan syarat tetap dilakukan investigasi. Beban berat Bank Indonesia menjadi pertanyaan besar atas kebijakan BI Rate selanjutnya (RDG pada minggu depan). Cadangan devisa Indonesia memang meningkat di sekitar USD 58 miliar. Tetapi cadangan devisa tidak hanya semata-mata untuk menjaga rupiah, yang pada kondisi saat ini sulit untuk mengintervensi penuh. Intervensi ke pasar terus menerus tidak akan berguna. Oleh karena itu diperkirakan BI akan menjaga BI rate di level saat ini 9,5%. Namun risikonya adalah inflasi bulan Oktober berpotensi tetap tinggi atau bahkan meningkat akibat imported inflation. Atau sebaliknya, pemangkasan FFR bisa jadi akan menguntungkan nilai rupiah, sehingga BI tidak perlu menaikkan BI rate.
Pada kondisi perekonomian seperti saat ini, signal beralihnya polar ekonomi ke Asia bukan semu lagi. Cina dan India dengan kekuatan ekonomi baru bisa jadi akan menjadi polar ekonomi baru dunia. Bagaimana dengan Indonesia ? Bukan tidak mungkin Indonesia adalah berikutnya. Meski terkena dampak dari krisis keuangan global saat ini, tetapi hingga kini Indonesia relatif masih “bertahan”. Krisis ekonomi tahun 1997/1998 tampaknya telah mengajarkan banyak hal pada Indonesia, baik di sektor riil,perbankan, mau pun pemimpinnya.
Pemerintah cukup sigap dengan mengeluarkan berbagai aturan baru untuk menjaga dampak krisis. Walau pun tidak dipungkiri bahwa dampaknya mulai terasa terutama bagi sektor berorientasi ekspor.
Gejala yang muncul saat ini adalah adanya minat perusahaan asing dari Amerika Serikat untuk mengalihkan investasinya senilai USD 1 miliar ke Asia Tenggara terutama Indonesia di sektor energi, manufaktur, jasa dan agrikultur. Pertimbangannya adalah perekonomian yang stabil untuk jangka panjang, potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih besar, akses kredit di Indonesia relatif stabil, pangsa pasar besar dan perhatian kuat dari pimpinan. Selain Amerika Serikat, negara dari Timur Tengah dan Cina telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia. Cina berminat mendanai proyek infrastruktur. Hal itu menjadi signal positif bagi perekonomian Indonesia di tengah
memburuknya krisis finansial global. Hanya saja ada masalah-masalah yang harus dibereskan oleh Indonesia, yaitu : infrastruktur, ketersediaan listrik, kepastian hukum dan regulasi. Bagi Timur Tengah regulasi tentang syariah sangat penting. Sementara hingga kini aturan syariah masih belum final. Jika Indonesia bisa mengambil peluang investor dari Timur Tengah yang saat ini memiliki likuiditas tinggi, maka Indonesia telah melakukan ‘hedging risiko perekonomian nasional’.
Meski demikian ketidakpastian dan kepanikan di bursa saham masih tinggi, sehingga bottom indeks sulit diperkirakan. Selain itu ada risiko instabilitas keamanan dalam negeri sehubungan dengan akan dilaksanakannya eksekusi pelaku bom Bali I yang dikhawatirkan akan mengundang reaksi dari kelompoknya. Berlanjutnya sell off dan kepanikan di bursa saham membuka kemungkinan IHSG terkoreksi lebih lanjut menuju level 1166/1118. Indeks akan menguji level 1211/1189 terlebih dahulu. Pada kondisi ekstrim dikhawatirkan IHSG akan tertekan ke level psikologis 1000. Namun sejumlah sentimen di akhir minggu diharapkan bisa mengurangi tekanan di bursa saham, antara
lain kesepakatan KTT ASEM, FOMC yang diindikasikan menurunkan FFR yang diharapkan mengapresiasi mata uang non US dolar, pemangkasan produksi minyak OPEC sebesar 1,5 juta bpd dimana OPEC akan menjaga agar harga minyak tidak di bawah USD 70/barel dan
release result 9M08 dalam beberapa minggu ke depan. Walau pun di sisi lain result 9M08, termasuk emiten US, yang tidak sesuai ekspektasi berisiko memberi sentimen negatif ke bursa lagi. Saat ini secara teknis IHSG telah masuk oversold dan di posisi terendah sejak pertengahan Juni 2006 atau telah terkoreksi sekitar 55% YTD, sedang selama Oktober telah turun 32% dengan PE 7,87x. Bagi investor dengan horison investasi jangka panjang bisa diperhatikan saham-saham di sektor infrastruktur (telekomunikasi, konstruksi) dan hilirnya, sektor energi. Sedang untuk jangka menengah bisa perhatikan saham yang terkait dengan minat investor asing tersebut di atas serta sektor berorientasi domestik termasuk consumer. Sementara sektor komoditas masih akan terkorelasi dengan harga minyak. Strategi investasi jangka pendek adalah short term trading.

Baca Lebih Lanjut......

Minggu, 26 Oktober 2008

Fresh Tumult as Signs of Recession Go Global

There are no safe havens from the forces battering the global economy any longer.
In rich countries and poor countries alike, markets are plunging, companies are scrambling for credit and cutting their growth plans and consumers are keeping cash in their pockets. The U.S. and some governments in Europe and Asia are spending heavily to stanch the problems in markets and Main Streets globally, but the attempts have not halted the damage.


Fears of a prolonged recession pushed shares down across the world on Friday. The slide started in Asia, where the benchmark Nikkei Stock Average fell 9.6% to a five-year low of 7649.08, and markets in Hong Kong, Mumbai and Seoul registered similar declines. Europe followed next, where the pan-European Dow Jones Stoxx 600 Index fell 4.7% to 198.80, dropping below 200 for the first time since mid 2003. In the U.S., the Dow Jones Industrial Average fell 312 points, or 3.6%, to finish at 8378.95, a 5 1/2-year low.

Global markets took a pounding Friday. WSJ's Tom Lauricella talks with colleague Andy Jordan about what's behind the fear. (Oct. 24)

Disappointing economic statistics released Friday fed the sense of malaise. In Europe, a closely-watched survey of economic activity, the Markit Purchasing Managers' Index, fell to its lowest level in a decade in October. In the U.S., sales of previously occupied homes rose 1.4% from a year earlier in September, as bargain hunters started nibbling. But that news was eclipsed by the fact that there's still a huge glut of homes and credit remains tight. In Asia, currencies sank across the continent, deepening fears that companies would have a tougher time paying off debt that is in dollars and euros.

One big exception was Japan, where the yen jumped to a 13-year high, and was at 94.6 yen to the dollar late Friday in New York. But the gain stoked fear that the Japanese export machine will sputter further because its exports will be more expensive when measured in dollars.

Japan's deepening pessimism came just a few weeks after big firms started uncharacteristically bold overseas acquisitions. Last month, Nomura Holdings Inc. snapped up parts of bankrupt Lehman Brothers Holdings Inc. in Asia and Europe. Nomura's ebullient chief executive Kenichi Watanabe said in an interview he was looking at other possible acquisitions. But even though the strong yen makes overseas assets cheaper, there is a chance that Japanese companies may hunker down, removing another potential rescue force for ailing companies elsewhere.

While markets have been tumbling for some time, Friday seemed to be a day when many people around the world became convinced the economy is in for a long recession. That sense was exacerbated by poor earnings results and news of deep layoffs. Central banks in Europe and the U.S. are hinting broadly at further interest-rate cuts, while government officials in the U.S., Europe and Asia also are plotting further action. But that wasn't enough to calm fears around the globe.

"No one expected this," said Jimmy Panthaki, a 63-year-old Indonesian manufacturing executive, fretting about his personal investment losses. "Where do we go from here? We can't buy. We can't sell. It is a Catch-22 situation."

J.P. Morgan Chase & Co. economists estimate U.S. gross domestic product fell at an annual rate of 0.5% in the third quarter and figure GDP will fall by 4% in the final three months of the year. That would make for the largest economic decline since the recession that ended in 1982. They're also forecasting steeper GDP drops in Europe, the U.K., Sweden, Norway and Switzerland through the middle of next year.

Among the many economic theories now in tatters is one that said that the U.S. was no longer the indispensable powerhouse on which global growth depended. It turns out that U.S. consumer spending, which makes up 70% of U.S. economic activity, remains a big driver of world economic growth because of heavy trade between countries. Banking woes in the U.S. and Europe are making credit harder to come by around the world and the downturn more difficult to escape.

"Every trading country and the U.S. are, in Bob Dylan's words, 'so entwined,'" said Arvind Subramanian, an economist at the Peterson Institute for International Economics in Washington.
Earnings tumble

That was evident in a raft of disappointing earnings news released Friday. In the U.S., Liz Claiborne Inc. slashed its earnings forecast, noting that traffic in malls and street locations is off in every region, including Europe.

In Asia, major export-heavy companies also reported declines in earnings and forecasts, including electronics makers Sony Corp. of Japan and Samsung Electronics of South Korea. Powerchip Semiconductor Corp. of Taiwan said it would delay opening a new chip plant until 2010. Auto powerhouse Toyota Motor Corp. said global vehicle sales dropped 4% in the July-September quarter, the company's first quarterly decline in seven years.

In Europe, automakers reported lower profits this week. France's PSA Peugeot-Citroen said it planned "massive" production cuts in the fourth quarter after posting a 5.2% decrease in third-quarter sales. Scandinavian truck makers Volvo AB and Scania AB also reported big slowdowns in earnings. German auto maker Daimler AG cuts its 2008 earnings forecast for the second time in a year. France's Renault SA and Italy's Fiat SpA also have issued profit warnings.

With plunging earnings come layoffs. In Sweden, Volvo announced production cuts at two European factories and plans to lay off 1,400 people at its truck division. In the U.S., Chrysler LLC said it would cut one-fourth of its salaried work force next month. The auto giant is facing "the most difficult economic period any of us can remember," said Chrysler Chief Executive Robert Nardelli.

Some manufacturers in the U.S. and Europe are still pinning hope on faster-growing developing nations in Asia, Latin America and Eastern Europe. Tim Sullivan is chief executive of Bucyrus International Inc., a maker of giant mining machines in South Milwaukee, Wis., that exports 80% of its products. He figures that even if the U.S. plunges into a deep recession, developing nations remain reliable markets. Growth may be slowing there, he says, but that's from "incredibly high growth rates to something that's still high."

In Newcastle, England, Michael Charlton isn't as bullish about the firm he owns, Charlton & Co., which imports and manufactures valves for pipes. As the price for currencies and commodities whipsaws, he constantly checks currency movements before resetting some prices, almost on a daily basis.

Developing nations in Asia and Latin America have gone from bull to bear in a matter of weeks as recessions in Europe and the U.S. seem more certain. On Oct. 5, Brazilian president Luiz Inacio Lula da Silva confidently predicted that "if the crisis gets here, it's going to be a ripple." But the ripple has turned into a flood as Latin American stocks, bonds and currencies have swooned. In São Paulo, a newly rich generation of investment-fund managers has gone from gaming who will buy the next private jet to exchanging rumors about which financial institution might be first to fail.

Over the past few weeks, dramatic currency swings have caused punishing losses for Latin American blue chips from Mexico's cement giant Cemex SAB to the Brazilian conglomerate Grupo Votorantim. Mexico's third-largest retailer, Controladora Comercial Mexicana, declared bankruptcy recently after reporting huge losses related to the plunging Mexican peso.

In Latin America and Asia, fears are growing of a repetition of the financial turmoil of 1997 and 1998, which devastated the economies of Thailand, Indonesia and South Korea, and also threatened Brazil. This time around, the countries are better positioned to withstand trouble. They have more manageable foreign debts and bigger foreign-exchange reserves that can be used to defend their currencies in the event of a market panic.

Even well-managed Asian and Latin American economies have significant vulnerabilities, including the risk of sudden outflows of foreign capital if the global credit squeeze worsens, as well as their large dependence on exports. In Asia, exports accounted for 46.7% of the region's gross domestic product in 2007. That's about 11% higher than in 1998, said Stephen Roach, Morgan Stanley's Asia chairman.

Indonesia, southeast Asia's largest economy, is especially at risk, despite liberalizing its economy and attracting heavy foreign investment since the Indonesian economy melted down in 1997. Foreigners, who held more than $90 billion in Indonesian stocks and bonds at the start of the month, are starting to pull their money from the country out of fear the rupiah will weaken further. Indonesia has a relatively small pool of foreign reserves -- roughly $57 billion -- to defend the rupiah if foreign capital begins to flee.

The faith of Asia's new middle class in market economics could suffer if markets continue to tank. There have been reports of at least five recent suicides in the region stemming from the financial distress. On Tuesday, Parag Tanna, a 34-year-old stockbroker in Mumbai, India, strangled his wife and later killed himself. His suicide note cited "heavy financial duress" after the market swooned, police said.

In Kuwait, dozens of traders staged a walk-out of the Kuwait Stock Exchange on Thursday, demonstrating against falling stock prices and what they said was government inaction to stem the losses.
Government help

With confidence eroding globally, governments, central banks and multilateral institutions are working on yet more plans to bolster economies. Vast bailout plans, deep interest rate cuts and massive injections of liquidity into the global financial system so far haven't done the trick.

The European Central Bank and the Federal Reserve have widely signaled that they will continue to cut rates. At a meeting in Beijing, the Sultan of Brunei, representing the 10-member Association of Southeast Asian Nations, announced that a plan to pool $80 billion of foreign-exchange reserves from 13 Asian nations will be launched "as soon as possible." The fund probably won't by launched until the middle of next year.

At the IMF, the governing board is considering a plan to make available billions of dollars in loans in loans to certain well-managed countries without some of the IMF's usual tough policy condition. Still, countries like Pakistan, which have fallen into financial trouble because of over-spending, would have to make unpopular budget cuts and take other measures to qualify for the loans. Meanwhile, President Bush has called wealthy nations and developing nations to Washington on Nov. 15 to discuss the economic emergency.

In Washington, Democrats are pushing for another round of economic stimulus spending to boost the economy. But Europe is unlikely to match any new Washington spending. French President Nicolas Sarkozy said he would suspend a tax on new investments by companies until Jan. 2010 to help stimulate the economy. But Germany's finance ministry, which hastily approved a €500 billion rescue package for the country's banking sector last week, said it doesn't intend to match that with spending aimed propping up the economy, at least for now, because of concerns of deepening the budget deficit.

One of the few places of market optimism on Friday was Zimbabwe, an economically troubled part of Africa. The Zimbabwe Industrial Index gained 249.90% on Friday in a bizarre response to the country's hyperinflation. Many vendors prefer to barter rather than accept near worthless cash, so residents with extra money are piling it into the stock market, hoping for gains once the country's violent political situation is resolved.

Baca Lebih Lanjut......

Selasa, 21 Oktober 2008

CPRO mengubah Harga RI

Central Proteina Prima merubah jumlah saham right issue
pertamanya dari jumlah sebelumnya 8.053.258.830 saham menjadi 17.225.025.190
saham.Keterangan tambahan perseroan menyebutkan harga pelaksanaan berubah dari
Rp200 sebelumnya menjadi Rp100 per lembar meski dengan nilai nominal sama Rp100.
Setiap pemegang 100 saham perseroan hingga 3 november berhak atas 77 HMETD perseroan
untuk membeli saham baru. Cum dan ex di pasar reguler 29-30 oktober dan di pasar
tunai 3-4 november dengan periode perdagangan HMETD 5-12 november 2008.

Ada udang dibalik CPRO????
Sebaiknya dihindari dahulu masih banyak saham2 yang lain..


Baca Lebih Lanjut......

Senin, 20 Oktober 2008

OIL , akankah makin meragukan????


Datanya agak telat.

Baca Lebih Lanjut......

IHSG -Pandangan Relative Sederhana



Akankah indeks "IHSG" menuju keatas menutupin GAPnya?? Mudah-mudahan.
Range pergerakan IHSG masih belum jauh dari 1850-1388. Ada kesempatan untuk mengurangi kerugian dalam range ini. Mungkin bagi yang belum melakukan CL ataupun sudah melakukan cut loss dan masih mempunyai dana segar.

Baca Lebih Lanjut......

DJIA - Update 11:20 PM WIB


Secara sederhana ada kemungkinan DOW Bullish menuju 10.XXX, ditambah program injeksi dana $250 Milyar sebagai bagian $700 milyar untuk menginjeksi perbankan USA.
Paulson mengatakan bahwa dana 250 M tersebut bukan diakui sebgai pengeluaran tetapi sebagai investasi jangka panjang sebagaimana dikutip di CNBC

Baca Lebih Lanjut......

Rabu, 15 Oktober 2008

IHSG -Pandangan relative sederhana


Indeks saham gabungan akan makin sulit menanjak, meskipuyn ada dana bantuan pemerintah untuk menenangkan pasar. Mungkin target berikutnya yang akan kita nantikan di level 12XX,XX selanjutnya ke level 9XX,X.


Beberapa berita fundamental pendukung kemungkinan turunnya indeks BEI sbb:

1. Dana Asing yang Cabut dari SUN Mencapai Rp 5,9 Triliun
JAKARTA. Kondisi bursa yang sempat terjun bebas satu pekan lalu ternyata memberikan dampak pada kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN). Dalam sepekan yang berakhir hingga 10 Oktober lalu, jumlah dana asing yang cabut dari SUN mencapai Rp 5,9 triliun.
Sebelumnya, kepemilikan asing di SUN untuk bulan September mencapai Rp 105,49 triliun. Artinya, terdapat penurunan dana investor asing dalam SUN sebesar 0,05%. Rahmat Waluyanto, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan mengakui, besarnya kepemilikan yang cabut dalam sepekan ini dipengaruhi oleh likuiditas yang sangat seret pada sektor keuangan di pasar regional maupun global. "Mereka saat ini sedang membutuhkan dana kontan," ujarnya ketika dihubungi KONTAN.
Selain karena kondisi pasar yang sedang negatif, Rahmat menjelaskan, banyaknya investor asing yang menarik dananya dari instrumen utang negara juga ditengarai oleh panic selling. Asal tahu saja, dari 0,05% investor yang menarik dananya tersebut berasal dari investor jangka pendek.
Sekadar catatan, pada 5 September lalu, porsi kepemilikan asing di SUN mencapai 20,01% atau sebesar Rp 108,37 triliun. Namun hingga pertengahan September, porsi asing di SUN menurun menjadi 19,68% saja, setara dengan Rp 106,61 triliun.

2. Indonesia Mengharap US$ 5 Miliar untuk Standby Loan
JAKARTA. Indonesia berhasil meyakinkan lembaga donor untuk memprioritaskan Indonesia dalam memberikan standby loan atau dana pinjaman siap pakai. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Paskah Suzetta.
Paskah mengatakan pertemuan bersama antara Bank Dunia dan IMF telah bersepakat memberikan dukungan dalam upaya negara maju menjamin pinjaman antar bank. "Itu salah satu butir pertemuan. Itu sangat penting, karena menunjukkan seluruh dunia ingin mengantisipasi dan merasakan krisis finansial ini," kata Paskah di Jakarta, Rabu(15/10).
Besaran standby loan yang diharapkan pemerintah adalah US$ 5 milliar. Hanya saja, pemerintah baru mendapatkan komitmen dari Bank Dunia untuk memberikan gelontoran US$ 2 milliar.
Nantinya pinjaman siap pakai tersebut, akan digunakan pemerintah untuk melakukan pembangunan infrastruktur dan memperkuat ekonomi domestik jika pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 6% pada 2009.
"Penguatan ekonomi domestik dilakukan dengan memperkuat pasar dalam negeri dengan barang dalam negeri. Karena dengan jumlah penduduk yang besar, pasar kita sangat potensial," kata Paskah.
Artinya Pemerintah sudah mulai kebingungan mencari dana segar, sementara dana dalam negri semakin menipis

3. Regional juga semakin memburuk, ditambah pertumbuhan perekonomian sektor real yang melemah karena kenaikan suku bunga (SBI).

4. Tahun Depan, Harga Minyak Dunia Diprediksi Di Bawah US$ 100 per Barel
LONDON. Tahun depan, harga minyak dunia diperkirakan akan terus berada di bawah level US$ 100 per barel. Sebabnya, terjadi pengurangan konsumsi bahan bakar seiring dengan terjadinya krisis finansial terparah sejak 1930 silam.
Untuk pertama kalinya sejak Mei lalu, para analis yang disurvei oleh Bloomberg memprediksi harga minyak tidak akan lebih dari US$ 100 per barel.
“Sebagian analis sepertinya hanya memprediksi sesuai dengan arah angin dan terus mengubah-ubah ramalannya. Sebagian dari mereka merupakan analis yang memiliki ketetapan prediksi,” jelas Dresdner Kleinwort Group Ltd di London. Asal tahu saja, di saat analis lain memprediksi harga minyak mengalami kenaikan, Lewis merupakan salah satu analis yang memprediksi harga minyak akan berada pada level US$ 80 per barel pada tahun depan.� �
Pada 12 Oktober lalu, Goldman Sachs Group Inc menurunkan prediksi harga minyak dunia pada tahun 2009 dari US$ 123 menjadi US$ 86 per barel. Para analis Goldman yang dipimpin oleh Jeffrey Currie dan Giovanni Serio mengaku tidak mempertimbangkan faktor krisis global yang menyebabkan penurunan terhadap barang-barang komoditas.

Kesimpulannya???
Mungkin sebaiknya bisa disimpulkan sendiri
Keep safe Trading,
Lucky Borha

Baca Lebih Lanjut......

Jumat, 10 Oktober 2008

Saham pilihan,.. buyback akankah berhasil?

Beberapa saham belum semua, sedikit aja, apakah akan bisa menghasilkan profit sesaat?? Mungkin sebaiknya pasang Trading range, dan jangan membeli banyak saham, dan ketatkan posisi CL dengan segera.










Baca Lebih Lanjut......

Kamis, 09 Oktober 2008

Harga Tambang makin turun termasuk OIL

Beberapa harga komoditas di bursa komoditi trennya lagi menurun,..
Apalagi harga Oil, sepertinya akan ada kesulitan untuk bertengger kembali di level US$100 per barel, malah ada kemungkinan kembali ke level 7X
Coba lihat grafik OIL, Nikel dan Timah berikut ini



Harga minyak mentah turun seiring dengan meningkatnya cadangan komoditas itu di Amerika Serikat serta berkurangya permintaan karena krisis ekonomi global.

Harga kontrak minyak mentah untuk pengiriman November turun US$1,63 (-1,8%) menjadi US$87,32 per barel dalam perdagangan di New York Mercantile Exchange dan US$87,67 per barel pada pukul 15:05 di Singapura.

Harga perdagangan berjangka minyak turun 40% dari rekor US$147,27 per barel pada 11 Juli. Kemarin, harga minyak turun US$1,11 (-1,2%) menjadi US$88,95 per barel setelah sempat menyentuh US$86,05 per barel, terendah sejak Desember.

Pasokan minyak naik 8,12 juta barel menjadi 302,6 juta barel pada minggu yang berakhir 3 Oktober, sementara impor dan produksi dimulai keembali setelah terhenti bulan lalu akibat badai, ungkap Departemen Energi.

"Kenaikan cadangan karena dimulainya kembali impor dan produksi. Melemahnya ekonomi global menjadi berita buruk bagi permintaan minyak," ujar Victor Shum, konsultan senior pada Purvin & Gertz Inc di Singapura.

Sementara itu, analis Toby Hassall dari Commodity Warrants Australia di Sydney mengatakan kenaikan cadangan ini menjadi bukti menurunnya permintaan. "Ini merupakan rangkaian terakhir dari perkembangan fundamental yang mengindikasikan harga minyak mentah kehilangan dukungan.




Harga timah turun ke level terendahnya dalam satu tahun terakhir di London Metal Exchange tertekan perluasan krisis kredit yang meningkatkan kekhawatiran perekonomian global akan melambat dan akhirnya memangkas permintaan bahan baku.

Harga jenis logam yang lain seperti nikel dan tembaga juga turun. Nikel mendekati level terendahnya dalam 33 bulan terakhir. Tembaga turun pada hari ketiga perdagangan di Shanghai karena bursa saham rontok yang terpicu kekhawatiran krisis di industri perbankan.

"Pelemahan perekonomian akan berdampak pada seluruh konsumsi komoditas metal. Investor memosisikan diri pada pelepasan saham dan meninggalkan hampir seluruh pasar," kata Lin Yuhui, Research Manager China International Futures Co di Shenzhen, China.

Timah, komoditas yang menunjukkan kinerja terbaik di London Metal Exchange tahun ini, turun ke level terendah dalam setahun terakhir. Jenis logam ini, sebagian besar digunakan untuk kegiatan mematri, anjlok 41% dari rekor yang dicapai pada 15 Mei sebesar US$25.500 per ton. Sampai dengan bulan kesepuluh tahun ini, harga timah sudah melemah 8,1%.

Kontrak timah untuk pengiriman tiga bulan turun 6,8% menjadi US$15.100 per ton pada pukul 14.19 waktu Singapura yang merupakan level terendah sejak 19 September 2007.

Nikel, jenis logam yang mengalami performa terburuk tahun ini, turun 2,8% menjadi US$13.801 per ton yang merupakan level terendah sejak Januari 2006. Sampai saat ini, harga nikel anjlok 47% sebagai dampak penurunan permintaan dari industri baja.

Kontrak tembaga juga turun 4,4% menjadi US$5.380 per ton, yang merupakan level terendah sejak 8 Februari 2007. Pada pukul 14.32 waktu Singapura, tembaga diperdagangkan pada level US$5.420 per ton.

Kecemasan pasar

Tembaga untuk pengiriman Desember di Shanghai Futures Exchange turun 2.920 yuan atau 6% dari posisi sebelumnya menjadi 45.720 yuan atau setara dengan US$6.712 per ton pada saat perdagangan dibuka pada pukul 09.00 waktu setempat.

"Kecemasan di pasar ekuitas akan menyebabkan harga sebagian besar bahan logam pada posisi yang paling rendah," kata Mark Pervan, peneliti Australia & New Zealand Banking Group Ltd.

Penguatan nilai tukar dolar AS, sambungnya, juga akan mengurangi minat beli bahan logam. Indeks nilai tukar dolar AS dibandingkan dengan enam mata uang utama lainnya seperti euro, yen, dan pound sterling menguat 2,1% sejak awal Oktober.

Jenis logam lain yang diperdagangkan di bursa London juga turun seperti aluminium melemah 1,8% menjadi US$2.251 per ton, seng turun 0,3% menjadi US$1.545 per ton, timah hitam terkoreksi 2,6% menjadi US$1.588 per ton pada perdagangan pukul 14.33 waktu Singapura.

Bloomberg

Baca Lebih Lanjut......

Transaksi Saham BEI Masih Dihentikan Hingga Kamis, Kembali dari Liburan

Perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap ditiadakan hingga Kamis (9/10/2008) ini. Transaksi kemungkinan baru akan dibuka hari Jumat, 10 Oktober 2008.

Demikian disampaikan Menneg BUMN yang juga Menkeu ad interim Sofyan Djalil usai rapat terbatas di kantor presiden, Jakarta, Kamis (9/10/2008) dini hari.

"Sampai kapan tutup, kita akan terus melihat situasi dalam satu atau dua tiga hari. Yang pasti, besok tidak buka, tapi mungkin Jumat buka. Tapi kita akan lihat sampai kita dapat laporan yang bagus tetang situasi itu," jelasnya.

Seperti diketahui, BEI akhirnya memutuskan untuk menghentikan sementara perdagangan saham pada hari ini pukul 11.08 waktu JATS, setelah IHSG anjlok hingga 10,38%.

Ketika perdagangan saham ditutup pukul 11.08 JATS, Rabu (8/10/2008) IHSG merosot tajam hingga 168,052 poin atau 10,38 persen ke posisi 1.451,669. Posisi IHSG ini merupakan terendah sejak September 2006.

"Penutupan pasar ini untuk mencegah kejatuhan saham lebih lanjut dan menenangkan pelaku pasar," kata Direktur Perdagangan BEI MS Sembiring, Rabu (8/10/2008).

Sofyan menilai, penghentian sementara transaksi saham ini sudah sesuai prosedur. "Dan ditambah lagi BEI sedang lakukan investigasi atas perdagangan yang diduga nyimpang. Jadi selama tutup ini dilakukan kajian-kajian," jelas Sofyan.

Mengenai perintah presiden agar BUMN_BUMN melakukan pembelian kembali saham atau buy back, menurut Sofyan hanya akan dilakukan oleh BUMN yang memiliki banyak dana dan memiliki pasar bagus, namun harga sahamnya anjlok karena kondisi yang tidak mendukung.

"Maka (BUMN) diminta untuk beli kembali sesuai kemampuan financial mereka," jelas Sofyan.

Selain itu, lanjut Sofyan, BUMN-BUMN besar juga diminta untuk berkoordinasi dalam pemenuhan kebutuhan valasnya agar tidak memperparah situasi.

"Supaya BUMN nggak spekulasi di valas. BUMN yang butuh dolar agar koordinasi dengan BI, mengajukan kebutuhan valas ke BI lalu sampaikan ke Menneg BUMN. Tujuannya agar dalam situasi demikian BUMN tidak perparah situasi," urainya.

Selain itu, BUMN yang punya banyak dolar AS diluar negeri juga diminta menarik dananya untuk kemudian disimpan di bank lokal agar tidak digunakan untuk spekulasi.

"Presiden mendengar langsung dari BUMN dan memberi instruksi ke BUMN besar agar tidak mengambil langkah yang memperparah situasi," pungkasnya.

Baca Lebih Lanjut......

Sabtu, 04 Oktober 2008

DJIA -akankah memperpanjang liburan untuk para buyer dan trader?



Bailout Doesn't Resolve Fears On Economy, Credit begitulah judul Headline di beberap surat kabar terkemuka di USA, pada saat pembukaan, DJIA menguat, tetapi setelah pengumuman bailout disetujui kongres DJIA langsung terkoreksi, "Wall Street Gets Rescue, But What About Stocks?"

begitu juga judui beberapa Headline di internet USA termasuk CNBC.

Secara grafik terlihat break the lower low, MACD juga trend turun. Akankah liburan masih tetap diperpanjang bari para pelaku bursa di Indonesia?
Ditambah kabar buruk lagi FORTIS mengalami kesulitan keuangan juga..
Keep stay out from the market, and cut your losses ASAP if the market not as your prediction.

Good Luck

Baca Lebih Lanjut......

Kamis, 02 Oktober 2008

Senate endorses bailout, uncertainty remains

By Tony Munroe and Ralph Boulton

HONG KONG/LONDON (Reuters) - The U.S. Senate endorsed a revised $700 billion plan to tackle a financial crisis that has shaken world markets and drawn warnings of approaching economic catastrophe.

The plan now faces a final hurdle in the House of Representatives, which rocked global markets this week by rejecting an earlier version. President George W. Bush, speaking after Wednesday night's 74-25 Senate vote, called the bailout "essential to the financial security of every American".


But the crisis, beginning with a collapse in the U.S. housing market and spreading to major financial institutions, has reverberated beyond American shores, hitting European banks and spurring moves there to formulate a similar support plan.

U.S. figures showing plunging U.S. auto sales, led by a 34 percent slide at Ford Motor Co, added to evidence the crisis was spreading now to the "real economy", threatening industry, smaller businesses and jobs.

The bailout plan, equivalent to some $2,300 per American, is intended to reinvigorate worldwide credit markets and interbank lending that had frozen up while overleveraged financial institutions staggered under the weight of failed mortgages.

It involves the Treasury taking "toxic" or bad loans off the hands of institutions.

But market participants warned that the rescue package is not a cure-all, with a worsening economic outlook spurring calls for central banks to cut interest rates.

"Even if the bill is passed, worries remain over the global economic outlook so financial markets are unlikely to stabilize," said Masamichi Adachi, senior economist at JPMorgan in Tokyo.

"It's a completely different world now. All the things U.S. authorities are doing now are simply aimed at preventing a global meltdown."

Stocks in Asia were lower on Thursday on recession fears, and European stocks opened flat. Treasuries rose and the dollar gave up early gains.

The House of Representatives will probably vote on Friday.

President Bush praised Senate passage of the package and urged the House to quickly do the same.

"With the improvements the Senate has made, I believe members of both parties in the House can support this legislation," Bush said in a written statement.

HOUSE PASSAGE SEEN MORE LIKELY

Leaders in the U.S. House of Representatives expressed cautious optimism that the legislation would be approved.

Senate leaders hope that sweetening the plan with a tax cut and extended federal protection for bank deposits can turn "no" voters into supporters. On Monday, the House rejected the previous version of the plan by a 228-205 vote.

"It's still uncertain. I think it is likelier to pass than before," House Financial Services Committee Chairman Barney Frank said in an interview on CNN.

"The main change is reality. I think that it's not possible now to scoff at the predictions of doom if we don't do anything," the Massachusetts Democrat added.

Many Americans resent the idea that Wall Street is being "bailed out" at taxpayer expense, and have made their views clear in emails and calls to Washington, putting pressure in particular on vulnerable members of the House.

All 435 House seats will be contested in the election on November 4, as opposed to 35 seats up for grabs in the Senate.

Treasury Secretary Henry Paulson, whose original three-page proposal grew to hundreds of pages when Congress got involved, urged the House to act swiftly to ratify it.

Should the House uphold the bill, it would go to the White House for signature into law by President Bush.

"This sends a positive signal that we stand ready to protect the U.S. economy by making sure that Americans have access to the credit that is needed to create jobs and keep businesses going," Paulson said.

The financial crisis has become the biggest issue in the forthcoming U.S. elections, and both presidential candidates, Republican Sen. John McCain and Democratic Sen. Barack Obama, voted for the package.

Stocks in Tokyo dropped 1.9 percent on Thursday, while MSCI's share index for the rest of Asia lost 1.2 percent. Oil gained $1 a barrel.

"If the massive expansion of the Fed's balance sheet and other CB (central bank) liquidity injections cannot do the trick then coordinated global rate cuts becomes likely and necessary," Michael Hartnett, chief emerging markets equity strategist at Merrill Lynch, wrote in a note.


In Europe, France and Germany clashed over the idea of a U.S.-style financial rescue fund for Europe amid further signs of contagion from the global credit crisis.

Baca Lebih Lanjut......