Beberapa harga komoditas di bursa komoditi trennya lagi menurun,..
Apalagi harga Oil, sepertinya akan ada kesulitan untuk bertengger kembali di level US$100 per barel, malah ada kemungkinan kembali ke level 7X
Coba lihat grafik OIL, Nikel dan Timah berikut ini
Harga minyak mentah turun seiring dengan meningkatnya cadangan komoditas itu di Amerika Serikat serta berkurangya permintaan karena krisis ekonomi global.
Harga kontrak minyak mentah untuk pengiriman November turun US$1,63 (-1,8%) menjadi US$87,32 per barel dalam perdagangan di New York Mercantile Exchange dan US$87,67 per barel pada pukul 15:05 di Singapura.
Harga perdagangan berjangka minyak turun 40% dari rekor US$147,27 per barel pada 11 Juli. Kemarin, harga minyak turun US$1,11 (-1,2%) menjadi US$88,95 per barel setelah sempat menyentuh US$86,05 per barel, terendah sejak Desember.
Pasokan minyak naik 8,12 juta barel menjadi 302,6 juta barel pada minggu yang berakhir 3 Oktober, sementara impor dan produksi dimulai keembali setelah terhenti bulan lalu akibat badai, ungkap Departemen Energi.
"Kenaikan cadangan karena dimulainya kembali impor dan produksi. Melemahnya ekonomi global menjadi berita buruk bagi permintaan minyak," ujar Victor Shum, konsultan senior pada Purvin & Gertz Inc di Singapura.
Sementara itu, analis Toby Hassall dari Commodity Warrants Australia di Sydney mengatakan kenaikan cadangan ini menjadi bukti menurunnya permintaan. "Ini merupakan rangkaian terakhir dari perkembangan fundamental yang mengindikasikan harga minyak mentah kehilangan dukungan.
Harga timah turun ke level terendahnya dalam satu tahun terakhir di London Metal Exchange tertekan perluasan krisis kredit yang meningkatkan kekhawatiran perekonomian global akan melambat dan akhirnya memangkas permintaan bahan baku.
Harga jenis logam yang lain seperti nikel dan tembaga juga turun. Nikel mendekati level terendahnya dalam 33 bulan terakhir. Tembaga turun pada hari ketiga perdagangan di Shanghai karena bursa saham rontok yang terpicu kekhawatiran krisis di industri perbankan.
"Pelemahan perekonomian akan berdampak pada seluruh konsumsi komoditas metal. Investor memosisikan diri pada pelepasan saham dan meninggalkan hampir seluruh pasar," kata Lin Yuhui, Research Manager China International Futures Co di Shenzhen, China.
Timah, komoditas yang menunjukkan kinerja terbaik di London Metal Exchange tahun ini, turun ke level terendah dalam setahun terakhir. Jenis logam ini, sebagian besar digunakan untuk kegiatan mematri, anjlok 41% dari rekor yang dicapai pada 15 Mei sebesar US$25.500 per ton. Sampai dengan bulan kesepuluh tahun ini, harga timah sudah melemah 8,1%.
Kontrak timah untuk pengiriman tiga bulan turun 6,8% menjadi US$15.100 per ton pada pukul 14.19 waktu Singapura yang merupakan level terendah sejak 19 September 2007.
Nikel, jenis logam yang mengalami performa terburuk tahun ini, turun 2,8% menjadi US$13.801 per ton yang merupakan level terendah sejak Januari 2006. Sampai saat ini, harga nikel anjlok 47% sebagai dampak penurunan permintaan dari industri baja.
Kontrak tembaga juga turun 4,4% menjadi US$5.380 per ton, yang merupakan level terendah sejak 8 Februari 2007. Pada pukul 14.32 waktu Singapura, tembaga diperdagangkan pada level US$5.420 per ton.
Kecemasan pasar
Tembaga untuk pengiriman Desember di Shanghai Futures Exchange turun 2.920 yuan atau 6% dari posisi sebelumnya menjadi 45.720 yuan atau setara dengan US$6.712 per ton pada saat perdagangan dibuka pada pukul 09.00 waktu setempat.
"Kecemasan di pasar ekuitas akan menyebabkan harga sebagian besar bahan logam pada posisi yang paling rendah," kata Mark Pervan, peneliti Australia & New Zealand Banking Group Ltd.
Penguatan nilai tukar dolar AS, sambungnya, juga akan mengurangi minat beli bahan logam. Indeks nilai tukar dolar AS dibandingkan dengan enam mata uang utama lainnya seperti euro, yen, dan pound sterling menguat 2,1% sejak awal Oktober.
Jenis logam lain yang diperdagangkan di bursa London juga turun seperti aluminium melemah 1,8% menjadi US$2.251 per ton, seng turun 0,3% menjadi US$1.545 per ton, timah hitam terkoreksi 2,6% menjadi US$1.588 per ton pada perdagangan pukul 14.33 waktu Singapura.
Bloomberg
Kamis, 09 Oktober 2008
Harga Tambang makin turun termasuk OIL
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar