News And Updates

Senin, 27 Oktober 2008

News Hari Ini

Rebound di BEI pada 2 hari pertama perdagangan pekan lalu bukan berarti telah lepas dari sentimen negatif. Sentimen di Wall Street sendiri dipicu oleh seruan Ketua The Fed, Ben bernanke, agar pemerintahan Bush mengucurkan lagi paket stimulus II dalam bentuk rabat pajak senilai USD 168 miliar. Konggres AS mengawali dengan stimulus sebesar USD 150 miliar. Sentimen positif lain adalah LIBOR turun 36 bps, harga minyak naik ke USD 74/barel sehubungan dengan rencana OPEC untuk memangkas produksinya dan laporan keuangan positif beberapa emiten di US.

Setelah rebound karena imbas dari bursa Wall Street dan Asia, pada perdagangan tengah minggu, IHSG mengalami sell off. Diawali oleh profit taking, selanjutnya terjadi panic seling sejak sesi II dibuka. Kekhawatiran bahwa krisis keuangan global akan berdampak pada kinerja perusahaan-perusahaan telah menekan saham-saham di berbagai bursa dunia. US dolar melemah terhadap Euro dan Yen.
Depresiasi Euro terhadap US dolar dipicu oleh prediksi penurunan suku bunga ECB lebih cepat dari penurunan Fed Funds Rate, karena Eropa tidak akan membiarkan perekonomiannya makin terpuruk. Sementara nilai rupiah terdepresiasi dengan
cepat dan menembus Rp 10.000/USD pada perdagangan Jumat (24/10), meski Gubernur Bank Indonesia menyatakan akan tetap di pasar meski tidak bisa menentang aliran besar dana. Hal ini makin mendorong panic selling di bursa, sehingga IHSG terkoreksi 92,340 poin (-6,69%) ke titik nadir di level 1244,864. Level tersebut merupakan level terendah sejak pertengahan Juni 2006. Selain itu harga minyak mentah turun lagi ke level lebih rendah ke USD 66,75/barel mengabaikan pertemuan OPEC pada Jumat yang mengagendakan pemangkasan produksi antara 1-2 juta barel per hari. Result 9M08 beberapa emiten (PTBA, SMGR, MPPA) dan rencana corporate action emiten seperti tender offer (BNII, ISAT) serta cash offer BNGA tidak bisa mengimbangi sentimen negatif global yang kuat. Program buy back saham BUMN tidak ditunjukkan, meski harga saham BUMN terkoreksi hingga batas bawah autoreject. Sejumlah saham mengalami koreksi
hingga batas autorejection 10%, bahkan diantaranya terjadi berturut-turut selama
beberapa hari, antara lain UNTR, ASII, ELTY, UNSP dan BTEL. Pergerakan saham BMRI, BBRI juga terhambat karena berita bahwa emiten itu memiiki eksposure di Bank Indover sebesar Rp 400 miliar. Terakhir dketahui bahwa LPBN juga memiliki eksposure di Indover. Pihak perbankan meminta Bank Indonesia menyelamatkan bank Indover, tetapi BI terjepit pada peraturan yang melarang BI melakukan tindakanterhadap afiliasinya. DPR sendiri awalnya enggan memberikan persetujuan jika tidak di-‘backing’ oleh Presiden karena khawatir akan dituntut atas kemungkinan tudingan kasus ’BLBI II’ di masa datang. Meski DPR akhirnya menyetujui injeksi Indover oleh BI, tetapi dengan persyaratan tetap dilakukan investigasi atas Indover.
KTT ASEM ke-7 di Beijing pada 24-25 Oktober menyepakati segera melakukan perombakan komprehensif dan efektif terhadap sistem moneter dan finansial
internasional. Hasil KTT juga menyerukan kepada IMF agar segera mengambil peran utama dalam membantu negara-negara yang kesulitan keuangan. Hasil dari KTT ASEM tersebut akan dibawa ke pertemuan G-20 pada 15 November mendatang di Washington. Hal itu merupakan langkah bersama dari berbagai negara guna mengatasi krisis keuangan global. Amerika Serikat sendiri telah menyetujui dana sebesar USD 700 miliar untuk krisis keuangan di AS. Sementara Eropa menyetujui rencana dimana 15 negara bermata uang Euro dan Inggris sepakat mengumpulkan USD 2,3 triliun untuk menjamin sekaligus dana bantuan darurat bagi bank-bank yang lumpuh akibat krisis. Sedang Asia menggalang dana
USD 80 miliar sebagai dana darurat mengatasi krisis.
Sebenarnya sistem keuangan Asia tidak terlalu terguncang, karena tidak banyak
terkait langsung dengan masalah kredit macet perumahan AS. Namun yang dikhawatirkan adalah : 1) Terganggunya likuditas di pasar Asia terkait dengan penarikan dana oleh negara-negara AS dan Eropa, 2) Depresiasi mata uang negara Asia terhadap US dolar, 3) Dampak krisis keuangan di AS dan Eropa terhadap ekonomi negara Asia terutama bagi penurunan ekspor dan investasi asing.
Selanjutnya eskalasi krisis ini akan memukul ekspor, pendapatan perusahaan dan
pendapatan dari pajak. Pada akhirnya krisis ekonomi adalah momok yang paling ditakuti. Hal itu tidak saja berdampak pada sektor riil, tapi juga sektor non riil
seperti sektor keuangan dan bursa saham. Semua pihak tidak berharap kejadian ‘Great Depression’ Amerika Serikat pada tahun 1929 akan terulang. Pada saat itu ekonomi AS baru benar-benar pulih dalam 25 tahun kemudian. Langkah bersama berbagai negara yang diawali dari domestik dan regional, diharapkan bisa mengatasi krisis keuangan global ini, setidaknya menahan akselerasi menuju resesi ekonomi.
Pemilu Presiden US pada 4 November akan menjadi momentum bagi masa depan AS naik di bidang ekonomi, politik mau pun keamanan. Hal itu diperkirakan akan mempengaruhi ekspektasi investor. Hingga waktu pelaksanaan FOMC 29 Oktober dimana pertemuan G-20 juga telah dilaksanakan. Artinya, apabila seknario optimis sesuai ekspektasi, maka pembalikan momentum ke arah positif akan terjadi di tahun 2009. Namun sebaliknya jika eskalasi krisis keuangan meluas dan langkah langkah yang diambil tidak efektif, maka tahun 2009 akan menjadi tahun berat berikutnya. Berkaca dari krisis tahun 1997/1998, ekonomi Indonesia bangkit lagi dalam masa 2-3 tahun kemudian.
Pada 29 Oktober The Fed akan melaksanakan FOMC dan diindikasikan akan memangkas Fed Funds Rate sebesar 50 bps menjadi 1% bahkan kemungkinan bisa mencapai 75 bps. Hal itu ditujukan agar perekonomian AS tidak stagnan atau bahkan defisit pertumbuhan.
Namun perkiraan bahwa ECB juga akan memangkas suku bunganya lebih cepat/tinggi dari AS telah mendepresiasi Euro terhadap US dolar dan Yen. Akibatnya US dolar terapresiasi terhadap mayoritas mata uang dunia termasuk Rupiah. Hal ini menjadi dilema bagi Bank Indonesia, dimana di satu sisi diharapkan tidak menaikkan lagi BI rate, tapi di sisi lain BI berfungsi menjaga nilai rupiah didasarkan pada inflation targeting framework. Sementara intervensi ke pasar terkendala oleh masalah Bank Indover yang membutuhkan suntikan dana untuk menyelamatkannya. DPR telah menyetujui injeksi sebesar Rp 7 triliun dengan syarat tetap dilakukan investigasi. Beban berat Bank Indonesia menjadi pertanyaan besar atas kebijakan BI Rate selanjutnya (RDG pada minggu depan). Cadangan devisa Indonesia memang meningkat di sekitar USD 58 miliar. Tetapi cadangan devisa tidak hanya semata-mata untuk menjaga rupiah, yang pada kondisi saat ini sulit untuk mengintervensi penuh. Intervensi ke pasar terus menerus tidak akan berguna. Oleh karena itu diperkirakan BI akan menjaga BI rate di level saat ini 9,5%. Namun risikonya adalah inflasi bulan Oktober berpotensi tetap tinggi atau bahkan meningkat akibat imported inflation. Atau sebaliknya, pemangkasan FFR bisa jadi akan menguntungkan nilai rupiah, sehingga BI tidak perlu menaikkan BI rate.
Pada kondisi perekonomian seperti saat ini, signal beralihnya polar ekonomi ke Asia bukan semu lagi. Cina dan India dengan kekuatan ekonomi baru bisa jadi akan menjadi polar ekonomi baru dunia. Bagaimana dengan Indonesia ? Bukan tidak mungkin Indonesia adalah berikutnya. Meski terkena dampak dari krisis keuangan global saat ini, tetapi hingga kini Indonesia relatif masih “bertahan”. Krisis ekonomi tahun 1997/1998 tampaknya telah mengajarkan banyak hal pada Indonesia, baik di sektor riil,perbankan, mau pun pemimpinnya.
Pemerintah cukup sigap dengan mengeluarkan berbagai aturan baru untuk menjaga dampak krisis. Walau pun tidak dipungkiri bahwa dampaknya mulai terasa terutama bagi sektor berorientasi ekspor.
Gejala yang muncul saat ini adalah adanya minat perusahaan asing dari Amerika Serikat untuk mengalihkan investasinya senilai USD 1 miliar ke Asia Tenggara terutama Indonesia di sektor energi, manufaktur, jasa dan agrikultur. Pertimbangannya adalah perekonomian yang stabil untuk jangka panjang, potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih besar, akses kredit di Indonesia relatif stabil, pangsa pasar besar dan perhatian kuat dari pimpinan. Selain Amerika Serikat, negara dari Timur Tengah dan Cina telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia. Cina berminat mendanai proyek infrastruktur. Hal itu menjadi signal positif bagi perekonomian Indonesia di tengah
memburuknya krisis finansial global. Hanya saja ada masalah-masalah yang harus dibereskan oleh Indonesia, yaitu : infrastruktur, ketersediaan listrik, kepastian hukum dan regulasi. Bagi Timur Tengah regulasi tentang syariah sangat penting. Sementara hingga kini aturan syariah masih belum final. Jika Indonesia bisa mengambil peluang investor dari Timur Tengah yang saat ini memiliki likuiditas tinggi, maka Indonesia telah melakukan ‘hedging risiko perekonomian nasional’.
Meski demikian ketidakpastian dan kepanikan di bursa saham masih tinggi, sehingga bottom indeks sulit diperkirakan. Selain itu ada risiko instabilitas keamanan dalam negeri sehubungan dengan akan dilaksanakannya eksekusi pelaku bom Bali I yang dikhawatirkan akan mengundang reaksi dari kelompoknya. Berlanjutnya sell off dan kepanikan di bursa saham membuka kemungkinan IHSG terkoreksi lebih lanjut menuju level 1166/1118. Indeks akan menguji level 1211/1189 terlebih dahulu. Pada kondisi ekstrim dikhawatirkan IHSG akan tertekan ke level psikologis 1000. Namun sejumlah sentimen di akhir minggu diharapkan bisa mengurangi tekanan di bursa saham, antara
lain kesepakatan KTT ASEM, FOMC yang diindikasikan menurunkan FFR yang diharapkan mengapresiasi mata uang non US dolar, pemangkasan produksi minyak OPEC sebesar 1,5 juta bpd dimana OPEC akan menjaga agar harga minyak tidak di bawah USD 70/barel dan
release result 9M08 dalam beberapa minggu ke depan. Walau pun di sisi lain result 9M08, termasuk emiten US, yang tidak sesuai ekspektasi berisiko memberi sentimen negatif ke bursa lagi. Saat ini secara teknis IHSG telah masuk oversold dan di posisi terendah sejak pertengahan Juni 2006 atau telah terkoreksi sekitar 55% YTD, sedang selama Oktober telah turun 32% dengan PE 7,87x. Bagi investor dengan horison investasi jangka panjang bisa diperhatikan saham-saham di sektor infrastruktur (telekomunikasi, konstruksi) dan hilirnya, sektor energi. Sedang untuk jangka menengah bisa perhatikan saham yang terkait dengan minat investor asing tersebut di atas serta sektor berorientasi domestik termasuk consumer. Sementara sektor komoditas masih akan terkorelasi dengan harga minyak. Strategi investasi jangka pendek adalah short term trading.

0 komentar: