Target 17500, masih Up Trend support dan resist garis putih
Kamis, 03 September 2009
IHSG - tinjauan relative sederhana
IHSG masih dalam trend naik dgn support kritis di garis putih, dgn didukung OBV masih daidalam kisaran garis tren
Speculative buy
Rabu, 15 Juli 2009
Ideas
Idea Trading hr ini
BBNI: BUY 1,670-1,710 SELL: 1,760-1,770
UNSP: BUY 590-630 SELL: 660-670
BUMI: BUY 1,810-1,860 SELL: 1,920-1,950
ASII: BUY 24,600-25,300 SELL: 25,900-26,100
TRUB: BUY 163-169 SELL: 176-179
Dimonitor:
TBLA: 290360
BMTR: 350-405
INCO: 3,550-3,900
ANTM: 1,840-1,930
GZCO: 165-200 KIJA: 97-124
Selasa, 03 Februari 2009
Market Psychiatrist Dorn: "Why Are Traders Addicted To Perfection?"
Trading is not about perfection. It is about probability and progress.
All charts, analyses (fundamental and technical) and trading plans are built on probabilities.
Why then, do so many traders strive for perfection?
Why do so many traders miss trades, waiting for exactly the right entry, beat up on themselves when it doesn't come and the position runs away while they sit there scratching their heads and condemning themselves?
Why are so many traders trying to turn a game of probability into one of near-perfect certainty?
The answer lies in one of the cardinal sins of trading which is PERFECTIONISM.
Perfectionism can be a great help to people in many professions, but can be fatal to a trader. Perfectionists, always trying to find the Holy Grail of trading go from one service to another, from one system to another, looking for a way that they can be right all the time. "YES! Now, I found it! It's this trading room, or this service, or this indicator! Uh-Oh---Wait... something is wrong here. Not all of these trades are working and I have drawdowns! How can it be that this particular method failed and I actually had to take a loss? Must be something wrong. I will try harder and look for an even better system, a more expensive service, a new and improved guru, some absolutely no-fail software so that I can have ONLY WINNING TRADES."
This is perfectionism in action. Not only does this type of irrational behavior and belief undermine and demoralize a trader, but it takes away all the enjoyment and fun of being in the markets. It leads to depression with depletion of psychic and physical energy, and leaves the perfectionist to confront his basic and overriding fear — fear of failure. In the extreme, it leads to physical and mental illness, including addiction to prescription drugs, alcohol, or illegal substances as well as other addictions. The pain of failure or the haunting fear of failure is simply overwhelming, and one turns to whatever works to medicate the pain.
Life can be lived forwards, but can only be understood backwards...Soren Kierkegaard
This is what happens with perfectionists. Perfectionists are made, not born. We are taught from an early age by demanding (and often well-meaning) parents that we have to be the best in order to win their approval and the approval of others. Unfortunately, this is totally upside down. Perfectionists share a belief that perfection is required in order to be accepted by others. The reality is that acceptance cannot be gained through performance or any other external factors. Self-acceptance is the root of happiness and the true beginning of personal evolution.
If you have a perfectionist mentality when trading, you are setting yourself up for failure, because it is a "given" that you will experience losses along the way. You must begin to think of trading as a game of probability. Your losses (that you hope will return to breakeven) will kill you. If you cannot take a loss when it is small ( because of the need to be perfect), then you will watch that small loss grow into a larger loss and so on into a vicious cycle of more and more pain for the perfectionist. Trading on hope does not work, because the markets can be "wrong" for a lot longer than you can remain in positive cash flow. The object should be excellence in trading, not perfection. Moreover, it is essential to strive for excellence over a sustained period, as opposed to judging that each trade must be excellent. This is a marathon...not a sprint.
"The greatest traders know how to take cut losses and let winning positions run. Perfectionists often do exactly the opposite."
They get in at the wrong time, stay in too long and then get out the wrong time. Perfectionists are always striving and never arriving. The market will find the flaw in a perfectionistic trader and exploit it day after day. The market is your greatest teacher and your most demanding critic, so take this wonderful opportunity every day to learn about yourself and make yourself strong.
If you see in yourself this trait of perfectionism rearing its ugly head, it's OK to get angry at it and even yell or curse at it. Do whatever it takes to acknowledge it and then find a way to fix it.
Here are a few suggestions:
1. Try to appreciate and enjoy the process as well as the outcome
2. Set more achievable and realistic goals for your trading
3. Remember that your self-worth and your worth as a human being to those who love you does not fluctuate from day to day depending on if you win or lose that day
4. Focus less on achievement and more on enjoyment. Trading is serious, but it should be fun and not something one approaches with fear and dread
5. Lighten up. Laugh more (especially at yourself!)
6. Learn from your mistakes, forgive yourself and make peace with your past. Strive to be better...not perfect...just an amazing human work in progress.
If we were always to wait for the most favorable combination of circumstances, no enterprise would ever be undertaken. There can be no end without a beginning--there was never an enterprise in which everything fitted in perfectly, for chance plays a leading part in the affairs of all men.
Obedience to rule does not ensure success, but success, on the other hand, furnishes a canon---a rule of conduct...Napoleon Bonaparte
Thanks and Good Trading!
Janice
Selasa, 27 Januari 2009
Dow Theory
Umurnya sudah lebih dari 100 tahun dan teori ini telah banyak dijadikan dasar dalam melakukan analisa teknikal. Teori Dow diformulasikan dari serangkaian artikel di Wall Street Journal yang digawangi oleh Charles H. Dow dari 1900 sampai 1902, dimana ia meninggal dunia. Editorial dan artikel ini menggambarkan keyakinan Dow mengenai bagaimana pasar saham berperilaku dan bagaimana pasar dapat dijadikan ukuran dalam melihat lingkungan bisnis.
Dow belum sempat menerbitkan teori lengkapnya terhadap pasar, tetapi beberapa rekan dan pengikutnya telah mempublikasikan hasil kerjanya yang telah diperluas ruang lingkupnya.
Dow yakin bahwa pasar saham secara keseluruhan adalah sebuah patokan yang terpercaya mengenai kondisi bisnis didalam ekonomi dan dengan menganalisa keseluruhan pasar, seseorang dapat dengan akurat melihat kondisi tersebut dan mengidentifikasi arah pergerakan pasar.
Teori pertamanya ia gunakan untuk membentuk Dow Jones Industrial Index dan Dow Jones Rail Index (sekarang indeks transportasi), yang sebenarnya dikumpulkan oleh Dow untuk Wall Street Journal. Dow menciptakan indeks-indeks ini karena ia merasa mereka adalah gambaran akurat dari kondisi bisnis didalam ekonomi karena mereka mencakup dua segmen ekonomi utama yaitu industri dan transportasi. Walaupun indeks-indeks tersebut telah mengalami banyak perubahan dalam 100 tahun terakhir, teorinya masih digunakan pada indeks pasar saat ini.
Banyak dari alat analisa teknikal yang kita kenal saat ini memiliki dasar dari teori Dow. Karena alasan ini, pelaku pasar dan trader seharusnya mengetahui enam elemen dasar dari Dow Theory.
I. Pasar Mendiskon Apapun
Elemen mendasar pertama dari teori Dow mengemukakan bahwa semua informasi, baik saat ini, masa lalu bahkan masa depan, telah didiskon atau diserap kedalam pasar dan tercermin pada harga saham dan indeks.
Informasi tersebut termasuk semuanya mulai dari emosi investor sampai ke data inflasi atau data ekonomi lainnya, juga pengumuman laporan keuangan perusahaan yang akan dibuat setelah pasar tutup. Berdasarkan asumsi ini, informasi yang tidak termasuk adalah sesuatu yang tidak diketahui seperti bencana alam. Tetapi bahkan resiko dari kejadian tersebut telah diserap kedalam pasar.
Penting untuk diingat bahwa ini tidak menggambarkan kemampuan dari pelaku pasar atau bahkan pasar itu sendiri untuk mengetahui kejadian di masa depan. Lebih kearah, dalam beberapa periode waktu, semua faktor yang telah terjadi dan diekspektasi akan terjadi telah diserap oleh pasar. Seiring adanya perubahan, seperti resiko pasar, pasar menyesuaikan hal ini dengan harga, merefleksikan informasi baru.
Ide bahwa pasar mendiskon apapun sebenarnya bukan hal baru bagi analis teknikal, karena ini adalah dasar yang digunakan oleh banyak alat analisa teknikal. Karenanya, dalam analisa teknikal, seseorang hanya perlu melihat pergerakan harga, dan tidak faktor lain seperti neraca keuangan.
Seperti analisa teknikal utama lainnya, teori Dow sangat berpatokan pada harga. Namun, teori Dow lebih menitikberatkan pada pasar secara keseluruhan daripada hanya beberapa saham tertentu.
Jadi teori Dow ini menitikberatkan pada analisa pasar secara keseluruhan melalui pergerakan harga sebuah indeks saham dari pasar modal. Juga patut diperhatikan bahwa teori Dow ini berfokus pada pergerakan harga dan tren indeks, implementasi juga bisa digabungkan dengan elemen analisa fundamental. Walaupun begitu banyak pihak mengatakan bahwa teori Dow lebih cocok sebagai alat analisa teknikal.
II. Pasar Tiga Tren
Bagian penting dari teori Dow adalah mengenali arah pasar secara keseluruhan. Untuk bisa melakukan ini, teori Dow menggunakan analisa tren.
Nah, dengan begitu anda harus mengerti terlebih dahulu mengenai metode analisa garis tren. harga memang bergerak dalam sebuah arah umum tetapi bukan berarti harga bergerak dalam garis lurus. harga akan cenderung membentuk harga tertinggi (peak) lalu kemudian membentuk low (trough), tetapi akan cenderung bergerak dalam satu arah.
Umumnya tren dibagi menjadi tiga jenis, yaitu naik (uptrend), turun (downtrend), dan menyamping (sideway trend). Agar pergerakan harga bisa diklasifikasikan sebagai sebuah tren naik, pembentukan harga tertinggi (peak) baru harus bisa lebih tinggi dari peak sebelumnya dan ketika pergerakan harga tersebut membentuk low (trough), trough ini tidak boleh melewati trough sebelumnya. Berlaku sebaliknya untuk tren turun.
Teori Dow mengidentifikasi tiga jenis tren dalam pasar yaitu primer, sekunder, dan minor. Sebuah tren primer adalah tren yang paling besar dan bertahan lebih dari satu tahun, sedangkan tren sekunder adalah tren menengah yang bertahan tiga minggu sampai tiga bulan dan sering diasosiakan sebgai pergerakan yang berlawanan dengan tren primennya. Dan yang teakhir, tren minor, bertahan kurang dari tiga minggu dan diasosiasikan sebagai pergerakan didalam tren menengah.
Tren Primer
Dalam teori Dow, tren primer adalah sebuah tren mayor (besar) yang terjadi didalam pasar, dimana menjadi yang paling penting untuk ditentukan. Hal ini karena tren besar ini akan mempengaruhi semua pergerakan harga dan juga akan mempengaruhi tren sekunder dan minor.
Dow mengatakan bahwa tren primer biasanya akan berlangsung antara satu sampai tiga tahun tetapi masih bisa bervariasi.
Dengan tidak mengecualikan panjang waktu tren, tren primer masih akan memiliki efek sampai adanya konfirmasi pembalikan arah (reversal). Sebagai contoh, jika dalam sebuah tren naik harga ditutup dibawah harga terendah sebelumnya yang dibentuk melalui trough, ini dapat menjadi sinyal bahwa pasar bergerak ke arah bawah, dan tidak bergerak ke harga yang lebih tinggi.
Dalam menganalisa tren, salah satu yang paling sulit adalah untuk menentukan seberapa lama pergerakan harga akan berlangsung dalam tren primer sebelum nantinya berbalik arah. Aspek paling penting adalah mengidentifikasi arah tren ini dan membuat posisi yang searah, bukan melawannya, ingat tren adalah teman, sampai adanya sinyal bahwa tren primer akan berbalik arah.
Tren Sekunder
Kalau tren primer adalah arah utama dalam pergerakan harga pasar. Sebaliknya, tren sekunder bergerak berlawanan arah denagn tren primer, atau sebagai koreksi dari tren primer.
Sebagai contoh, jika tren primernya adalah naik maka tren sekunder adalah pergerakan koreksi dari tren primer atau pembentukan harga terendah yang lebih tinggi dari harga terendah sebelumnya. Berlaku juga untuk kebalikannya jika tren primernya adalah turun.
Karena tren sekunder ini dianggap sebagai pergerakan koreksi dari tren primer, yang perlu diingat adalah pergerakan koreksi ini tidak menjadi pembalikan arah atau reversal.
Secara umum, tren sekunder bertahan selama tiga minggu sampai tiga bulan, sedangkan retracement dari tren sekunder berkisar antara sepertiga sampai duapertiga dari pergerakan tren primer. Contoh, jika tren primer sebuah indeks saham bergerak dari 10,000 sampai 13,000 (3,000 poin), maka tren sekundernya diharapkan akan membuat indeks tadi turun setidaknya 1,000 poin (sepertiga dari 3,000 poin).
Karakter penting lainnya dari tren sekunder adalah pergerakan harga di tren ini cenderung lebih fluktuatif dibandingkan dengan tren primernya.
Tren Minor
Tipe terakhir dari tiga jenis tren dalam teori Dow, tren minor, umumnya berlangsung kurang dari tiga minggu. tren minor secara umum adalah pergerakan koreksi dari tren
sekunder.
Karena tipikalnya yang jangka pendek dan fokus jangka panjang pada teori Dow, tren minor bukan merupakan perhatian utama bagi orang-orang yang menggunakan teori ini. Tetapi bukan berarti ini menjadi tidak relevan, tren minor harus diperhatikan karena menjadi bagian dari tren yang lebih besar yaitu sekunder dan primer.
Fokus dan perhatian utama dari teori Dow adalah tren primer dan sekunder, sedangkan tren minor hanya dianggap sebagai pelengkap saja. Jika terlalu banyak berfokus pada tren minor, ini bisa memicu adanya transaksi yang tidak rasional karena trader perhatiannya akan terganggu oleh pergerakan harga jangka pendek dan kehilangan pandangan jangka panjang.
III. Tiga Fase Tren Primer
Karena tren primer adalah tren yang paling vital untuk dipahami, teori Dow mengkategorikan tiga fase yang terjadi didalam sebuah tren primer, yaitu fase akumulasi (distribusi), fase partispasi publik, dan fase pelampauan (excess). Coba kita tengok bagaiman aplikasi ketiga fase ini dalam pasar bullish dan bearish.
Pasar Bullish (Tren Primer Naik)
Fase Akumulasi
Fase awal terbentuknya pasar bullish adalah fase akumulasi, yang merupakan dimulainya pergerakan tren naik. Ini juga dianggap sebagai titik dimana investor-investor yang mengetahui mengambil posisi dipasar.
Fase akumulasi biasanya muncul diakhir sebuah tren turun, ketika semuanya terlihat buruk. Tetapi fase ini juga merupakan waktu ketika pasar berada dilevel paling menarik karena pada titik ini kebanyakan berita buruk telah diserap oleh pasar, karena itulah downside risk-nya menjadi terbatas dan menawarkan valuasi yang menarik.
Tetapi, fase akumulasi ini bisa menjadi sesuatu yang sulit untuk diidentifikasi karena muncul diakhir tren turun, yang bisa saja ternyata hanya pergerakan rebound atau tren sekunder bukan menjadi awal sebuah tren baru. fase ini juga dikarakteristikan dengan adanya pesimisme pasar yang kuat, dengan banyak investor berpikir bahwa kondisi hanya akan semakin buruk.
Dari sisi teknikal, awal dari fase akumulasi ini ditandai dengan dimulainya fase konsolidasi di pasar. Ini terjadi ketika tren turun mulai terlihat datar seiring dengan tekanan jual yang berkurang.
Sebuah tren naik baru akan dikonfirmasi jika harga tidak membuat harga terendah baru jika dibandingkan dengan harga terendah sebelumnya.
Fase Partisipasi Publik
Ketika investor-investor yang memiliki informasi masuk pasar pada fase akumulasi, mereka melakukannya dengan asumsi bahwa yang terburuk telah berakhir dan pemulihan akan terjadi kedepannya. Seiring dengan kenaikan di fase ini, tren primen baru masuk kdelam fase yang dikenal dengan istilah fase partisipasi publik.
Di fase ini, sentimen negatif mulai berkurang seiring dengan kondisi bisnis yang semakin baik. Jika kabar-kabar baik mulai mengisi pasar, akan ada lebih banyak investor yang akan kembali masuk pasar.
Fase ini bukan hanya menjadi fase terpanjang, tetapi juga salah satu yang dibarengi oleh pergerakan harga terbesar.
Fase Pelampauan
Seiring dengan semakin besarnya kenaikan harga yang disebabkan kondisi bisnis yang baik dan jumlah pelaku pasar yang masuk semakin banyak, disinilah fase pelampauan dimulai.
Fase terakhir dalam tren naik ini adalah waktu bagi investor pintar untuk mulai keluar pasar. Dititik ini persepsinya adalah semuanya berjalan sangat baik dan hanya hal baik yang ada didepan. Dititik ini juga biasanya pembeli terakhir masuk pasar setelah terjadi kenaikan harga yang besar. Sayangnya mereka membeli disaat harga mendekati nilai tertinggi.
Selama fase ini, banyak perhatian harus diberikan pada sinyal-sinyal akan adanya pelemahan karena bisa saja menjadi pertanda bahwa tren naik akan berakhir dan akan berganti menjadi tren turun.
Pasar Bearish (Tren Primer Turun)
Fase Distribusi
Fase pertama dalam pasar bearish adalah fase distribusi, periode dimana pelaku pasar yang telah mendapatkan keuantungan mulai menjual (mendistribusikan) posisi mereka. Fase ini berlawanan dengan fase akumulasi pada pasar bullish. Pada fase ini, sentimen keseluruhan masih terus optimis dengan ekspektasi bahwa pasar akan terus bergerak naik.
Sama seperti fase akumulasi, fase distribusi juga sulit untuk diidentifikasi ditahap-tahap awal. Sebuah tren penurunan akan terkonfirmasi jika harga gagal membentuk tertinggi baru dibandingkan dengan tertinggi sebelumnya.
Fase Partisipasi Publik
Fase ini juga tidak jauh berbeda dengan fase partisipas pada pasar bullish, hanya perbedaan mendasarnya adalah mulai banyak pelaku pasar yang melepas posisinya dan kondisi pasar semakin buruk serta sentimen menjadi lebih negatif. Pasar akan terus bergerak turun seiring dengan naiknya aksi jual pelaku pasar.
Fase Panik
Ini adalah fase terakhir dari tren bearish yang memiliki kecenderungan adanya kepanikan yang ditandai dengan adanya aksi jual dalam jumlah yang sangat besar dengan waktu yang relatif singkat. Dalam fase panik ini, pasar diliputi sentimen negatif termasuk data ekonomi yang lemah dan bisnis perusahaan yang memburuk.
Biasanya banyak investor akan melepas posisinya dengan 'kepanikan' dan mereka-mereka ini adalah yang masuk pasar di fase pelampauan. Tetapi ketika pasar terlihat dilevel terburuknya fase akumulasi biasanya dimulai dan tren primer naik bisa mulai menunjukkan dirinya dan ini artinya siklus berulang dengan sendirinya.
IV. Indeks Pasar Harus Saling Mengkonfirmasi
Menurut teori Dow, pembalikan arah besar dari pasar bullish ke pasar bearish, atau sebaliknya tidak dapat disinyalisasikan kecuali kedua indeks (secara tradisional adalah Dow Jones Industrial dan Dow Jones Rail Averages) dalam sebuah kesamaan. Gampangnya, jika salah satu indeks mengkonfirmasi adanya sebuah tren primer naik baru tetapi indeks lainnya masih dalalm tren primer turun, sulit untuk mengasumsikan bahwa sebuah tren baru telah dimulai.
Alasan untuk hal ini bahwa sebuah tren primer, baik naik ataupun turun, adalah arah keseluruhan bagi pasar saham, dimana dalam teori Dow adalah cerminan dari kondisi bisnis pada ekonomi. Ketika pasar saham berkinerja baik, itu karena kondisi bisnis dalam keadaan baik, dan ketika pasar saham berkinerja buruk, hal itu disebabkan oleh buruknya kondisi bisnis. Jika kedua indeks Dow tersebut berada dalam sisi yang bertentangan, berarti belum ada kejelasan tren kondisi bisnis.
Jika kondisi bisnis menyebabkan indeks pasar utama bergerak ke arah berlawanan, kejanggalan ini mengindikasi bahwa tren primer akan sulit terbentuk. Ketika mencoba untuk mengkonfirmasi tren primer baru, karenanya, sangat vital bahwa lebih dari satu indeks menunjukkan sinyal yang sama dalam periode waktu yang relatif tidak jauh. Jika ada kesamaan dalam pergerakan indeks-indeks ini, ini adalah pertanda bahwa kondisi bisnis bergerak ke arah yang ditunjukkan. Karenanya, kenaikan indeks memberikan sinyal sebuah tren naik baru.
V. Volume Harus Mengkonfirmasi Tren
Dalam teori Dow, sinyal utama untuk melakukan beli dan jual berdasarkan pergerakan harga pada indeks. Volume juga digunakan sebagai indikator kedua untuk membantu mengkonfirmasi apa yang diindikasikan oleh pergerakan harga.
Dari hal dasar ini terlihat bahwa volume seharusnya naik ketika harga bergerak kearah tren dan menurun ketika harga bergerka berlawanan dengan arah tren. Sebagai gambaran, dalam sebuah tren naik, volume seharusnya naik ketika harga naik dan turun ketika harga turun. Alasan untuk ini adalah bahwa tren naik menunjukkan kekuatan ketika volume naik karena banyak pelaku pasar yang ingin membuat posisi beli dengan keyakinan bahwa momentum naik masih akan berlanjut. Volume rendah selama masa koreksi memberikan sinyal bahwa banyak pelaku pasar belum mau menutup posisinya karena mereka yakin bahwa momentum dari tren primer akan berlanjut.
Kebalikannya, jika volume bergerak melawan tren, ini adalah sebuah tanda adanya pelemahan pada tren yang sedang terjadi. Contohnya, jika pasar dalam keadaan tren naik tetapi volume rendah dalam pergerakan keatas, ini adalah sinyal bahwa aksi beli mulai melemah. Jika pembeli mulai meninggalkan pasar atau berbalik menjadi penjual, hanya ada sedikit peluang bahwa pasar akan meneruskan tren naiknya. Hal yang sama juga terjadi pada kebalikannya ketika pasar sedang dalam tren turun, dimana kalau volume naik merupakan indikasi bahwa lebih banyak pelaku pasar menjadi penjual.
Nah, dalam teori Dow ini, jika tren telah dikonfirmasi oleh volume, mayoritas uang di pasar akan bergerak bersama dengan tren dan bukan melawannya.
VI. Tren Masih Akan Berlanjut Selama Belum Muncul Tanda Reversal Yang Jelas
Alasan utama untuk mengidentifikasi tren adalah untuk menentukan arah keseluruhan dari pasar jadi posisi dapat diambil sesuai dengan arah tren dan bukan melawannya. Seperti diilustrasikan dibagian ketiga, tren bergerak bergantian dari naik menjadi turun dan sebaliknya, sehingga menjadi penting untuk mengidentifikasi transisi antara kedua arah tren tersebut.
Dalam teori Dow, bagian keeanam dan terakhir menyatakan bahwa tren masih terus berlangsung selama tanda-tanda yang ada belum memberikan indikasi jelas bahwa arah telah berubah.
Trader menunggu gambaran jelas mengenai pembalikan arah tren karena tujuannya bukan untuk membuat bingung pembalikan arah sesungguhnya di tren primer dengan tren sekunder atau hanya koreksi singkat. Ingat bahwa sebuah tren sekunder adalah sebuah pergerakan berlawanan arah dari tren primer yang tidak akan terus berlanjut. Misalnya tren primernya naik, tetapi indeks saat ini sedang dalam keadaan turun. Jika seorang investor mengambil posisi jual (short), dengan menyimpulkan bahwa penurunan saat ini adalah sebuah tren turun primer baru, mereka mungkin akan menerima resiko besar ketika tren primer terus berlanjut naik.
Kecuali anda dapat dengan aman menyimpulkan, berdasarkan sinyal-sinyal yang ada, bahwa tren telah berubah, jika tidak anda akan mengambil posisi yang berlawanan dengan arah tren. Sebagai patokan umum, ini bukan sebuah ide yang bijak, karena banyak pihak yang telah menanggung kerugian akibat melawan arah pasar.
VII. Ditel Teori Dow
Sejauh ini, kita telah membahas mengenai banyak ide didalam teori Dow. Dibagian oni, kita coba lihat pendekatan teknikal dari teori Dow, seperti bagaimana mengidentifikasi adanya perubahan arah tren.
Harga Penutupan dan Kisaran Pergerakan
Charler Dow sangat berpatokan pada harga penutupan dan tidak terlalu memusingkan pergerakan intraday dari indeks. Agar sebuah sinyal tren dapat terbentuk, harga penutupan harus memberikan sinyal tren-nya, bukan pergerakan harga intraday.
Fitur lain dalam teori Dow adalah kisaran pergerakan. Periode pergerakan harga menyamping (sideway) ini dilihat sebagai periode konsolidasi, dan trader harus menunggu pergerakan harga untuk menembus garis tren sebelum menyimpulkan kemana arah pasar. Misalnya, jika harga bergerkan diatas garis tren, kemungkinan pasar akan bergerak dalam tren naik.
Sinyal dan Identifikasi Tren
Satu aspek sulit untuk mengimplementasikan teori Dow adalah identifikasi akurat dari pembalikan arah tren. Ingat, bagi mereka yang mengikuti teori Dow akan mengambil posisi sesuai dengan arah pasar keseluruhan, jadi vital baginya untuk mengidentifikasi titik dimana arah ini berbalik.
Salah satu teknik utama yang digunakan untuk mengidentifikasi pembalikan arah tren adalah analisa harga tertinggi dan terendah (peak & trough analysis). Peak adalah harga tertinggi yang dari pergerakan harga pasar, sedangkan trough adalah harga terendah dalam pergerakan harga pasar. Perlu dicatat bahwa teori Dow mengasumsikan bahwa pasar tidak bergerak dalam garis lurus tetapi dari tertinggi ke terendah, dengan keseluruhan pasar bergerak dalam arah yang memiliki tren.
Sebuah tren naik adalah serangkaian peak yang lebih tinggi dan trough yang lebih tinggi pula secara berurutan.
Sebuah tren turun adalah serangkaian peak yang lebih rendah dan trough yang lebih rendah secara berurutan.
Bagian keenam dari teori Dow adalah tren masih akan berlangsung selama belum ada sinyal pembalikan arah yang jelas. Sama seperti hukum gerak Newton, dimana gerakan sebuah objek cenderung bergerak ke satu arah sampai ada kekuatan yang mengganggu pergerakan tersebut. Hampir serupa, pasar akan terus bergerka dalam sebuah arah primer sampai sebuah kekuatan, seperti perubahan kondisi bisnis, cukup kuat untuk merubah arah dari pergerakan primer.
Sebuah pembalikan arah (reversal) dari tren primer memberikan indikasi bahwa pasar tidak mampu menciptakan kembali peak dan trough yang lebih tinggi secara berurutan searah dengan arah tren primer yang sedang berlangsung. Untuk sebuah tren naik, sebuah pembalikan arah akan disinyalasikan oleh ketidakmampuan dari harga untuk mencapai tertinggi baru dan diikuti oleh ketidakmampuan untuk mencapai nilai terendah yang lebih tinggi. Di situasi ini, pasar telah berubah dari periode harga tertinggi yang lebih tinggi dan harga terendah yang lebih tinggi secara berurutan menjadi harga tertinggi dan harga terendah yang lebih rendah, yang merupakan sebuah komponen dari tren primer turun.
Pembalikan Arah Tren Naik
Pembalikan arah dari tren primer turun ketika pasar tidak lagi turun ke harga terendah dan tertinggi yang lebih rendah. Hal ini terjadi ketika pasar membentuk harga tertinggi yang lebih tinggi dibandingkan harga tertinggi sebelumnya dan diikuti oleh harga terendah yang lebih tinggi dibandingkan harga terendah sebelumnya, yang merupakan sebuah komponen dari tren naik.
Pembalikan Arah Tren Turun
VIII. Relevansi Saat Ini
Ada sedikit keraguan bahwa teori Dow adalah sebuah hal besar bagi sejarah analisa teknikla. Banyak bagian didalamnya yang merupakan dasar dari apa yang kita kenal saat ini. Aspek dalam teori Dow juga berhubungan dengan teori lain seperti teori Elliott Wave.
Bagaimanapun, karena adaptasi aslinya dan perbaharuan bagian-bagian didalamnya, relevansinya sebagai teknik analisa independen telah melemah. Alasan untuk ini karena semakin banyaknya teknik dan alat analisa yang lebih komprehensif, dimana merupakan bagian daro teori Dow, tetapi telah dilebarkan cakupannya.
Salah satu permasalahan yang lebih besar dari teori ini adalah bahwa orang-orang yang mengikuti teori ini dapat melewatkan keuntungan besar karena ukuran konservatif pada sinyal pembalikan arah tren. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sinyak terkonfirmasi ketika terdapat harga tertinggi berurutan (tren naik) atau harga terendah berurutan (tren turun). Bagaimanapun, apa yang sering terjadi ketika pasar telah menunjukkan sinyal jelas mengenai pembalikan arah, pasar telah menghasilkan keuntungan yang besar.
Masalah lain dengan teori Dow selama ini, ekonomi dan indeks yang selama ini digunakan Dow telah berubah. Konsekuensinya, hubungan antara kedua indeks, yang awalnya digunakan Dow untuk analisa, telah melemah. Gambarannya adalah sektor industri dan transportasi bukan lagi hal dominan dalam ekonomi. Teknologi, misalnya, saat ini telah menjadi bagian penting dari produksi dan pertumbuhan ekonomi.
Hal ini menjadi penting karena dasar pengamatan indeks adalah bahwa mereka merupkan leading indicator dari kondisi bisnis. Ekonomi telah secara jelas menjadi lebih tersegmen, membutuhkan analisa lebih banyak indeks, yang dapat mengurangi keakuratan dan patokan waktu dari analisa teori Dow. Bayangkan anda sedang menganalisa enam indeks sambil menunggu apa yang dikatakan bagian ke empat yaitu indeks pasar harus saling mengkonfirmasi.
Walaupun ada kelemahan dalam teori Dow, namun teori ini akan selalu penting bagi analisa teknikal. Prinsip pasar bergerak dalam tren dan analisa peak & trough selalu ditemukan dalam tulisan dan ide teknikal lainnya. Juga penting dalam teori Dow adalah emosi dalam pasar, yang masih merupakan karakteristik dari tren pasar.
Charles Dow dan teori Dow membantu investor untuk menambah pengetahuannya mengenai pasar jadi mereka dapat membaut investasi menjadi lebih baik dan mencapai kesuksesan investasi.
Penutup
Teori Dow mewakili awal dari analisa teknikal. Dengan mengerti teori ini dapat membuat anda lebih banyak mengerti analisa teknikal dan memiliki sebuah pandangan analis mengenai bagaimana mekanisme pasar.
Mari kita rangkum apa yang telah kita diskusikan sebelumnya:
* Teori Dow diformulasikan dari serangkaian editorial Wall Street Journal yang dibuat oleh Charler H. Dow, yang merefleksikan pandangan Dow mengenai bagaimana cara kerja pasar saham dan bagaimana pasar dapat digunakan untuk mengukur kondisi lingkungan bisnis.
* Dow yakin bahwa pasar saham secara keseluruhan adalah sebuah ukuran yang bisa diandalkan dari keseluruhan kondisi bisnis didalam ekonomi dan dengan menganalisa keseluruhan pasar, seseorang dapat secara akurat mendapatkan kondisi tersebut dan mengidentifikasi arah tren pasar utama dan kemungkian arah saham-saham tertentu.
* Pasar mendiskon segalanya
* Teori Dow menggunakan analisa tren untuk menentukan arah mana yang dituju pasar
* Tren primer adala tren pasar utama
* Tren sekunder adalah koreksi dari tren primer
* Tren primer dibentuk dalam tiga fase. Untuk tren naik, fasenya adalah fase akumulasi, fase partisipasi publik dan fase ekses. Untuk tren turun, ketiga fasenya adalah fase distribusi, fase partisipasi publik, dan fase panik.
* Indeks pasar harus saling mengkonfirmasi.
* Volume harus mengkonfirmasi tren. Indeks adalah sinyal utama yang mengindikasikan pergerakan sebuah saham, tetapi volume digunakan sebagai indikator kedua untuk membantu adanya konfirmasi dari apa yang diindikasikan oleh pergerakan harga.
* Tren masih akan berlangsung sampai muncul sinyal jelas pembalikan arah
* Dow mengandalkan harga penutupan dalam menentukan tren, nukan pergerakan harga intraday.
* Analisis peak & trough merupakan teknik utama dalam mengidentifikasi tren dalam teori Dow
Minggu, 25 Januari 2009
Banyak Perusahaan Global Terjungkal di Tahun Kerbau
Berdasarkan penanggalan Tiongkok kuno, Tahun Kerbau Tanah jatuh pada 26 Januari 2009. Akan lebih banyak kejadian luar biasa di bidang ekonomi sehubungan dari dampak krisis global yang melanda dunia internasional. Dampak ini pastinya juga sangat berpengaruh buruk terhadap perekonomian Indonesia, di antaranya yang menyangkut pertambangan dan migas. Ini bisa terjadi karena para spekulator komoditas minyak menilai resesi ekonomi bakal mengurangi konsumsi energi dunia. Khusus bidang investasi, di Tahun Kerbau Tanah sangat mungkin bursa saham Indonesia akan anjlok melebihi 41 persen – angka di mana sebelum kegiatan bursa dihentikan sementara. Sementara dari sisi produk domestik bruto dan inflasi, volume perdagangan di Tahun Kerbau berpotensi anjlok hingga di bawah 2,1 persen.
Selain itu, gejolak alam di bawah pengaruh shio Kerbau Tanah di 2009 juga memiliki indikasi yang buruk. Beberapa yang dapat disebutkan di sini antara lain, gempa bumi yang hampir dirasakan di setiap wilayah Indonesia, gunung meletus, banjir, dan longsor. Akan banyak jatuh korban jiwa dari peristiwa-peristiwa ini. Di samping itu, kecelakaan transportasi juga cenderung meningkat dibandingkan Tahun Tikus di 2008.
Dari sisi politik, di Indonesia Tahun Kerbau Tanah akan dimulai dengan pemilu yang dilanjutkan dengan pemilihan presiden. Tapi tetap, gaya politik yang dipakai masih seperti gaya lama yang banyak dimainkan oleh pelaku korupsi. Indikasi dari hal ini membuat angka pengangguran di Indonesia tak berkurang, malah cenderung bertambah.
Berdasarkan prediksi ini, suhu Acai juga melihat pemimpin Indonesia yang terpilih berdasarkan proses Pilpres nanti akan memikul tanggung jawab yang lebih berat dari yang dipikul pemimpin sebelumnya. Banyak hal yang dinantikan rakyat untuk merasakan Indonesia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ini membuat si pemimpin menjadi ektra mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk memuaskan rakyatnya. Tak heran makanya, di Tahun Kerbau Tanah nanti akan banyak ditemui pejabat yang menderita sakit.
Yang terakhir, suhu Acai menyampaikan di sini bahwa Tahun Kerbau. Tanah itu adalah simbol dari pekerja keras yang tekun dan sabar. Kerbau juga sangat mengetahui tentang apa yang akan digarapnya. Ini adalah penjabaran dari tantangan setiap orang agar mau bekerja keras untuk menggapai sukses. Dan karena tahun ini disimbolkan dengan hewan kerbau, maka kesuksesan itu bisa lebih cepat digapai asalkan sabar dan konsisten untuk terus bekerja keras.
Prospek "Return" Reksadana di Tahun Kerbau???
Investor reksadana mesti lebih cermat berinvestasi pada 2009. Meskipun tak bisa terlalu berharap banyak, industri reksadana bisa tetap jadi sasaran investor yang masih ingin membiakkan duitnya pada Tahun Kerbau ini.
Yang penting, investor lebih cermat berinvestasi. Aturan nomor satu, investasi reksadana butuh waktu lama. "Investor harus memiliki waktu investasi dan juga dana jangka panjang," tegas Ketua Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto kepada Kontan, Selasa (6/1).
Dus, investor harus merencanakan baik-baik investasinya. Dengan begitu, harapannya, investor dapat memetik keuntungan maksimal dari produk yang ia pilih.
Misalnya, reksadana saham. Abi memang enggan menyebut prediksi laba investasi (return) reksadana saham untuk 2009 karena tergantung dari gejolak pasar saham. Namun, ia merata-rata investor akan mengantongi return 15 persen-20 persen per tahun jika memiliki jangka waktu investasi hingga lima tahun.
Sementara itu, Analis Senior Infovesta Utama Rudiyanto, mengindikasikan return reksadana saham antara 20 persen-25 persen. "Pemilu membuat belanja masyarakat dan negara bertambah sehingga mampu meningkatkan pendapatan perusahaan," jelasnya.
Lebih lanjut, Rudiyanto justru berpendapat reksadana berbasis obligasi akan kembali berjaya seperti 2007. Sebab, harga obligasi tahun ini tengah merangkak naik akibat penurunan tajam tahun lalu. "Investor bisa mendapatkan keuntungan dari besarnya selisih harga," imbuhnya.
la memperkirakan, return 12 persen sampai 15 persen bukan hal yang mustahil. Apalagi, penerapan pajak obligasi masih akan berlaku secara bertahap hingga 2011.
Terproteksi masih dilirik
Tahun ini, reksadana terproteksi masih akan jadi tren, melanjutkan tren 2008. Permintaan reksadana ini kemungkinan masih cukup besar lantaran investor tetap berburu instrumen aman. Direktur Utama Manulife Aset Manajemen Indonesia, Denny R Thaher, menyatakan imbal hasil reksadana terproteksi lebih mengacu pada perkembangan suku bunga. "Tahun 2009 kurang lebih pada kisaran 9 persen," ajar Denny.
Bagaimana dengan produk gado-gado reksadana campuran? Analis memperkirakan return-nya tergantung porsi portofolionya.
Bila produk itu cenderung agresif, maka imbal hasilnya mendekati reksadana saham. Sebaliknya, bila cenderung konservatif, acuannya mendekati reksadana pendapatan tetap. Namun, kalau reksadana campuran itu bersifat moderat, Rudiyanto memperkirakan imbal hasilnya berkisar antara 15 persen hingga 20 persen.
Terakhir, Anda tentu bertanya-tanya tentang nasib reksadana pasar uang seiring tren penurunan suku bunga. Abi memperkirakan, return-nya berkisar 0,5 persen-0,75 persen di atas bunga deposito perbankan.
Namun, sekah lagi Abi mengingatkan pentingnya perencanaan dalam berinvestasi. "Jangan menggunakan dana jangka pendek untuk investasi jangka panjang," pesannya. Bila Anda mengabaikannya, belum tentu investasi Anda membuahkan untung sesuai harapan Anda
Hanya ganjalannya adalah pemerintah akan mengenakan pajak atas reksadana terproteksi,.. ini sebaiknya masuk dalam pertimbangan Anda memilih reksadana terproteksi.
Sedangkan report prediksi global ekonomi sebagai berikut
Pendapatan perusahaan di Standard & Poors 500 kemungkinan akan makin menipis dan mencatatkan kemerosotan selama delapan kuartal perturut-turut. Di Eropa dan Asia, outlook tahun 2009 ini kemungkinan jauh lebih buruk seiring dengan resesi mengikis permintaan untuk barang-barang ritel dan ekspor.
"Ini akan menjadi masa yang menyedihkan," kata Bruce McCain, chief investment strategist Key Private Bank di Cleveland. Menurutnya, laba perusahaan kemungkinan tidak akan melonjak hingga akhir 2009. "Pasar akan pulih terlebih dahulu, kemudian perekonomian akan pulih, sesudahnya baru pendapatan perusahaan pulih," imbuhnya.
Perusahaan memang harus berjuang ditengah permintaan konsumen yang melorot dan cash flow yang berkurang setelah perbankan mengetatkan pinjaman lantaran harus mengatasi menguapnya dolar AS di sektor properti.
"Kami membukukan puncak laba pada tahun 2007, dan pada tahun 2009 ini kami akan melihat kondisi yang terus memburuk," beber Diane Garnick, investment strategist Invesco Ltd. di New York. Para analis memprediksikan, pendapatan perusahaan masih menggelinding untuk terus optimis.
Sementara keuntungan yang akan digaet oleh perusahaan-perusahaan AS menanjak 4,3% sepanjang tahun ini, namun laba di Eropa justru diprediksikan akan merosot sepanjang tahun 2009. Para analis juga memprediksikan bakal muncul laporan perekonomian yang buruk di luar Asia lantaran resesi belum begitu dirasakan di sana.
Nah, mari menguping perkiraan dari sejumlah analis yang disurvei oleh Bloomberg tentang pendapatan yang naik maupun turun pada sejumlah perusahaan global.
Energi:
Industri yang bergerak di sektor energi akan memimpin kemerosotan ini, dengan pendapatan yang diprediksikan turun 29% pada tahun 2009. Keuntungan yang akan di kantongi Exxon Mobil Corp., Chevron Corp. dan ConocoPhillips, perusahaan minyak terbesar di AS, kemungkinan akan menyusut setelah resesi mengikis permintaan terhadap bahan bakar. Hitungannya, harga minyak dunia juga akan terus menciut 78% dari puncaknya di bulan Juli 2008.
Sementara itu, di Irving, Exxon Mobil, perusahaan terbuka di sektor energi yang terbesar di dunia, pendapatannya kemungkinan akan tergerus sebesar 39% menjadi US$ 28,2 miliar. Menurut survei Bloomberg, ini merupakan penurunan pertama sejak 2002.
"Kami menduga pendapatan industri energi akan terjun bebas, khususnya eksplorasi dan produksi," kata Gene Pisasale, dari PNC Capital Advisors in Baltimore.
Ritel:
Menurut perkiraan para analis, pendapatan ritel AS akan anjlok 20% tahun ini. International Council of Shopping Centers di New York memprediksikan 73.000 gerai di AS bakal gulung tikar di semester pertama tahun 2009. Tutupnya gerai di AS ini akan memperpanjang daftar kebangkrutan ritel setelah tahun lalu juga sempat tutup sebanyak 148.000 gerai. Asal tahu saja, angka itu merupakan yang paling besar sejak 2001.
"Anda akan melihat department stores, gerai yang menjual barang-barang khusus, gerai yang menjual barang diskon, gerai grosir, gerai waralaba, akan tutup," ujar Burt Flickinger, managing director Strategic Resource Group, persahaan konsultan ritel di New York.
AnnTaylor Stores Corp., Talbots Inc. dan Sears Holdings Corp. merupakan gerai yang tak cukup menunjukkan penjualan yang kinclong lantaran pelanggannya mengetatkan bujet belanja mereka. Lebih dari selusin ritel AS bangkrut tahun lalu, termasuk Circuit City Stores Inc., Linens ‘n Things Inc. dan Sharper Image Corp.
Sementara itu, Wal-Mart Stores Inc., kemungkinan akan dilaporkan membukukan kenaikan laba sebesar 6% dengan menawarkan harga yang lebih mini bagi pelanggannya.
Perbankan:
JPMorgan Chase & Co., Citigroup Inc., Bank of America Corp., Goldman Sachs Group Inc. dan Morgan Stanley, bank-bank kelas kakap di AS, kemungkinan akan menggudangkan laba yang besar tahun ini.
"Namun, untuk industri finansial yang besar, tahun ini tetap akan menjadi tahun yang sulit," kata David Burg, analis Alpine Woods Capital Investors LLC di New York. Menurutnya, cerita untuk tahun 2009 masih akan bertransformasi secara radikal. Yaitu, secara fundamental perusahaan akan mengubah model bisnisnya.
Goldman Sachs dan Morgan Stanley, yang merupakan dua perusahaan sekuritas terbesar di As sebelum akhirnya berubah menjadi perbankan, kemungkinan akan terdesak sebesar 15% lantaran aksi merger, akuisisi dan kecilnya underwriting fee. Hal ini ditegaskan oleh Kenneth Worthington, analis JPMorgan di New York.
Otomotif:
Perusahaan otomotif di AS akan terlihat meningkat di tahun 2009 setelah penjualan terjun bebas tahun lalu. Untungnya, pemerintah bersedia memberi dana talangan sebesar US$ 13,4 miliar untuk menyambung hidup General Motors Corp. dan Chrysler LLC.
Namun, para analis masih menghitung tahun ini GM bakalan kehilangan duitnya sebesar US$ 12,8 miliar. Ini masih mini ketimbang tahun lalu yang membukukan kerugian sebesar US$ 19,6 miliar. Sedangkan Ford Motor Co. kemungkinan akan kehilangan US$ 6,38 miliar, lebih kecil dibandingkan kerugian tahun lalu yang mencapai US$ 9,2 miliar.
IT:
Konsumen kemungkinan akan mengendalikan pengeluarannya, sehingga membuat penjualan Apple Inc., produsen iPhone dan Macintosh merosot. Hal ini diprediksi oleh David Bailey, analis Goldman Sachs di New York. Sementara itu, Google Inc., justru akan mencatatkan keuntungan yang naik sebesar 14% pada tahun 2009 ini lantaran mereka juga menurunkan pengeluaran mereka.
"Risiko jangka pendek yang paling besar adalah bagaimana hitungan tersebut di atas akan menyebar ke seluruh dunia. Inilah kartu yang paling liar!" tegas McCain dari Key Private Bank.
Pendapatan di perusahaan Eropa kemungkinan akan anjlok 21% di tahun 2009. Bandingkan dengan kenaikan yang sempat mereka gaet sebesar 4,7% tahun lalu.
Laba Royal Dutch Shell Plc, perusahaan minyak terbesar di Eropa, kemungkinan akan melorot 27%. Perusahaan ini menunda proyeknya di Canada dan Australia karena permintaan minyak juga turun.
Ritel di Eropa kemungkinan akan merosot 12% tahun ini. Diskon jor-joran yang mencapai 70% selama musim belanja memporak-porandakan margin keuntungan dan kemungkinan akan menggiring pada kebangkrutan. Hal ini dikatakan oleh Nick Hood dari Begbies Traynor.
Bulan lalu, Nokia Oyj, produsen ponsel terbesar, menegaskan bahwa pasar ponsel global tahun ini kemungkinan akan mengalami penyusutan untuk yang pertama kalinya sejak tahun 2001. Menurut perkiraan para analis, pendapatan di Espoo, basis Nokia di Finlandia, kemungkinan akan menciut 14% tahun 2009.
Sementara itu, separo Asia kemungkinan akan terperosok ke masa resesi tahun ini seiring dengan tergerusnya pendapatan ekspor sebesar US$ 700 miliar. Menurut Macquarie Group Ltd., hal ini bakalan menyebabkan perekonomian di Jepang, Hong Kong, Singapura, Korsel dan Taiwan terjungkal.
Pendapatan sejumlah perusahaan di Jepang kemungkinan akan berlanjut semakin tergerus setelah yen menguat terhadap mata uang asing di tahun 2008 dan membabat nilai ekspor. Credit Suisse Group AG memprediksikan, pendapatan akan berada di titik paling lemah pada semester pertama tahun ini bagi produsen otomotif, produsen mesin dan perusahaan teknologi.
"Tidak ada yang akan kebal menghadapi penurnan ini. Inilah saatnya untuk melihat siapa yang yang kehilangan paling sedikit, dan siapa yang mendapatkan paling banyak," kata Song Sang Hoon, analis Kyobo Securities Co. di Seoul.
Diantara perusahaan teknologi, Sony Corp. yang berbasis di Tokyo kemungkinan akan mengeliminasi 16.000 karyawannya seiring dengan penjualan televisi Bravia dan kamera digital Cyber-shot yang merosot. Sedangkan Panasonic Corp. memproyeksikan akan mendapatkan laba per 31 Maret 2009 90% lebih kecil dibandingkan antisipasi sebelumnya.
"Kuartal pertama 2009 akan menjadi kuartal yang sungguh-sungguh buruk. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan kembali kepercayaan diri," kata Frederic Dickson, dari D.A. Davidson & Co. di Lake Oswego, Oregon.
Sabtu, 24 Januari 2009
Jumat, 23 Januari 2009
Market Asia -Indonesia
Kondisi pasar finansial dalam negeri masih terus melambat terkena sentimen negatif penurunan bursa saham Asia. Pelaku pasar masih menerapkan strategi wait and see di tengah ancaman koreksi ekonomi global di tahun 2009.
Saham-saham tambang dan perbankan mengalami tekanan paling besar karena sentimen rugi derivatif yang dialami dua sektor tersebut akibat melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS di triwulan terakhir 2008.
Pada penutupan saham sesi I, Jumat (23/1/2009) IHSG turun 14,439 poin (1,09%) menjadi 1.312,884. Sedangkan rupiah pada perdagangan valas pukul 11.30 WIB, melemah 95 poin ke posisi 11.270 per dolar AS.
Perdagangan saham sesi siang mencatat transaksi sebanyak 8.576 kali, dengan volume 677,2 juta unit saham, senilai Rp 1,290 triliun. Sebanyak 11 saham naik, 70 saham turun dan 45 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 175 menjadi Rp 4.350, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 50 menjadi Rp 1.050, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) turun Rp 225 menjadi Rp 4.375, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 250 menjadi Rp 6.950 dan Bumi Resources (BUMI) turun Rp 20 menjadi Rp 490.
Indeks saham Korea ditutup turun hari Jum'at yang dipicu penurunan terhadap Samsung Electronics setelah mengumumkan kerugian kuartalan pertama dalam sejarah sedangkan LG Electronics turun untuk sesi keempat atas kekhawatiran outlook.
Samsung ditutup turun sebesar 4.12%, melemah setelah sempat menguat hingga sebesar 4.9% setelah melaporkan kerugian bersih periode Oktober-Desember sebesar 22.2 milyar won atau setara dengan US$16.16 juta dibandingkan dengan keuntungan yang didapatkan sebesar 2.21 trilyun won setahun lalu dan 1.22 trilyun won pada kuartal sebelumnya.
Kospi ditutup turun sebesar 2.05% pada level 1093.40 tapi menguat dari level terendahnya yang berada di 1087.66.
" Indeks mencoba tembus diatas level 1100 tapi dampak penurunan terhadap Wall Street dan pasar regional asia lainnya membuat hal ini tidak terjadi ", ujar Park Suk-hyun, analis pasar dari Eugene Investment & Securities.
Kospi turun sebesar 2.0% pada level 1093.57 dengan volume transaksi yang kecil, penurunan dipicu dari sektor teknologi setelah Samsung Electronics mengumumkan pandangan kerugian untuk laporan earning.
" Laporan earning diekspetasikan akan negatif sampai kuartal kedua tahun ini. Tapi beberapa orang berfikir bahwa kuartal pertama tidak akan seburuk kuartal keempat tahun lalu ", ujar Oh Tae-dong dari Taurus Investment & Securities.
Investor tetap akan berfokus terhadap data ekonomi bulan Januari dari Amerika dalam waktu dekat. Kospi diperkirakan akan berkisar pada level 1050-1100 minggu depan.
Samsung turun sebesar 3.7% pada level KRW444.000, LG Electronics turun sebesar 6.2% pada level KRW68.000, Hynix turun sebesar 6.2% pada level KRW6.970 seadngkan S-Oil turun sebesar 1.4% pada level KRW58.200 setelah melaporkan kerugian earning keempat.
Indeks saham Hongkong ditutup turun pertengahan sesi dengan volume transaksi yang kecil menjelang libur lima hari tapi perusahaan HSBC dan beberapa perbankan China menolong indeks untuk naik dari level terendahnya.
HSBC naik lebih dari 2.6%, naik untuk hari kedua setelah sesi sebelumnya terjadi tekanan aksi jual atas kekhawatiran perusahaan memerlukan dana segar.
Chalco turun lebih dari 2% setelah perusahaan memperingatkan kemungkinan terjadi pemotongan keuntungan lebih dari 50% di tahun 2008.
Hangseng akan ditutup hari Senin hingga Rabu dalam memperingati tahun baru China.
Hangseng ditutup turun sebesar 24.12 poin atau 0.19% pada level 12633.87 dimana level terendah berada di 12469.84 sedangkan level tertinggi berada di 12734.80.
Financial sector index naik sebesar 72.67 poin atau 0.4% pada level 18209.55.
HSBC naik sebesar 2.63% pada level HK$58.5, China Construction Bank naik sebesar 1.6% pada level HK$3.78 sedangkan Chalco turun sebesar 2.4% pada level HK$3.22.
KLCI menuju level 869.62, setelah turun sebesar 1.1% dalam volume perdagangan yang rendah,sebesar 116.7 juta saham dengan sentimen bergerak negatif, 224 banding 78, atas sepinya investor menghadapi liburan akhir pekan.
"Penurunan saham Wall Street dan lemahnya bursa regional telah mempengaruhi pergerekan indeks, banyak yang telah mengambil liburan saat ini.KLCI sepertinya berlanjut dalam kisaran 890 hingga 880," ujar seorang dealer.
Tenaga (5347.KU) turun 1.7% di MYR5.95, Sime Darby (4197.KU) turun 0.9% di MYR5.35, TM International (6888.KU) turun 1.8% di MYR3.32; Ranhill (5030.KU) +6.7% di 87.5 sen, PJ Bumi (7163.KU) +8.1%.
Rabu, 21 Januari 2009
Wall Street dan bursa Regional 'Memerah' Sambut Pelantikan Obama
Pelantikan Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat (AS) disambut dengan anjloknya harga saham-saham. Bursa Wall Street pun kembali 'memerah' karena tanda-tanda bahwa krisis perbankan global masih jauh dari usai.
Harapan baru akan hadirnya Obama untuk bisa memulihkan perekonomian dengan cepat ternyata tak mampu menandingi sentimen negatif dari laporan perbankan.
Pada perdagangan Selasa (20/1/2009), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot hingga 332,13 poin (4,01%) ke level 7.949,09. Indeks Standard & Poor's 500 juga anjlok 44,90 poin (5,28%) ke level 805,22 dan Nasdaq merosot 88,47 poin (5,78%) ke level 1.440,86.
Ini adalah penurunan indeks Dow Jones yang terbesar sejak 1 Desember 2008. Dan untuk pertama kalinya Dow Jones berada di bawah level 8.000 sejak 20 November 2008.
Saham-saham perbankan di berbagai belahan dunia sebelumnya telah merosot setelah Royal Bank of Scotland (RBS) mengumumkan kerugian yang tidak diperkirakan sebelumnya hingga US$ 40 miliar lebih. Hasil dari RBS itu setidaknya dijadikan cerminan bahwa kondisi bank-bank besar di berbagai belahan dunia belum juga membaik.
Sementara State Street Corp, yang merupakan manajer keuangan terbesar dunia membuat investor cemas tentang apa yang disebut sebagai wilayah paling aman di perbankan, setelah mereka mengumumkan kerugian yang tidak disadari hingga US$ 6,3 miliar dalam investasinya. Outlooknya pun diturunkan, sehingga harga sahamnya anjlok hingga 59%.
"Saham-saham semakin berjatuhan karena tragedi yang belum juga usai di sektor perbankan," ujar Tom Sowanick, chief investment officer Clearbrook Financial LLC seperti dikutip dari Reuters, Rabu (21/1/2009).
Sebagian besar saham perbankan berjatuhan, termasuk JPMorgan Chase & Co yang menjadi penyeret utama pelemahan Dow Jones. indeks sektor perbankan KBW anjlok hingga 20%, sementara indeks finansial S&P turun hingga 17%. Namun Citigroup naik tipis 3% setelah mengumumkan pemberian dividen 1 sen per saham per kuartal dan akan melanjutkan penjualan Citigroup Technology Services senilai US4 127 juta.
Investor Amerika terus dibayangi oleh rasa khawatir walaupun pemerintah Inggris mengumumkan satu ekspansi agresif yakni sebuah rencana paket penyelamatan finansial untuk membantu dan mengangkat perusahaan-perusahaan yang bermasalah.
Harga komoditi terlihat mixed. Harga minyak mentah mencoba bertahan stabil pada level 36.50 dollar per barel di New York. Harga emas naik sebesar 16.90 dollar pada level 856.80 dollar per ounce.
Indeks sahan China kembali mengalami penurunan diawal perdagangan hari Rabu yang dipicu dari melemahnya Wall Street semalam atas kekhawatiran terhadap kesehatan dari sektor perbankan.
Saham finansial memimpin penurunan dengan China Life turun sebesar 2.61% pada level CNY19.76. Perusahaan mengatakan dan mengekspetasikan mungkin terjadi kerugian lebih dari 50% terhadap keuntungan di tahun 2008.
Shanghai Composite turun sebesar 26.38 poin atau 1.32% pada level 1967.73.
CITIC Securities turun sebesar 1.46% pada level CNY20.95 setelah melaporkan terjadi kerugian dari keuntungan sebesar 41.22% menjadi 7.28 milyar yuan di tahun 2008.
Angang Steel turun sebesar 4.17% pada level 7.81 yuan setelah memproyeksikan penurunan sebesar 55% keuntungan di tahun 2008.
Suning Appliance Chain Store turun sebesar 5.55% pada level CNY6.50 setelah memangkas estimasi keuntungan tahun 2008 menjadi 40-50% dari forecast sebelumnya 60-80%.
TIPS MEMILIH BROKER SAHAM
Memilih perusahaan sekuritas atau perusahaan perantara perdagangan efek alias broker bukan perkara mudah. Apalagi, belakangan ini muncul ketakutan dari investor maupun calon investor lantaran munculnya beberapa masalah keamanan investasi dari beberapa broker.
"Sebetulnya investor maupun calon investor tidak perlu takut. Kasus 2-3 broker jangan digeneralisir bahwa semua broker berpotensi bermasalah," ujar Direktur perdagagan Fix Income dan Derivatif, Keanggotaan dan Partisipan Bursa Efek Indonesia, Guntur Pasaribu saat dihubungi *detikFinance, *Selasa (20/1/2009).
Menurut Guntur, masalah beberapa broker tersebut saat ini sedang ditangani intensif oleh BEI maupun Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). BEI bersama Bapepam sedang berupaya mengentaskan masalah ini secepatnya.
"Jadi investor tidak perlu khawatir. Industri ini masih bagus kok. Hanya 2-3 broker saja yang bermasalah. Sisanya yang 100 lebih itu masih bagus kok," ujar Guntur.
Namun bagi investor maupun calon investor yang masih ragu, Guntur memberikan beberapa tips-tips dalam memilih broker untuk berinvestasi di pasar modal.
"Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih broker terutama adalah struktur permodalan broker tersebut. Kedua, manajemen broker. Ketiga, divisi-divisi yang ada di broker tersebut seperti riset dan sebagainya. Terakhir, nilai MKBD broker juga bisa dijadikan acuan memilih broker," papar Guntur.
Kendati demikian, Guntur mengembalikan pada masing-masing investor untuk
memilih broker sesuai keinginannya. "Tips-tips tadi bisa digunakan untuk
memilih broker. Tapi tentunya, pilihan tetap di tangan investor untuk
memilih broker mana yang nyaman bagi mereka," ujar Guntur.
Pengamat pasar modal Dandossi Matram ketika dihubungi detikFinance juga mengungkapkan hal senada dengan Guntur. Dandossi dengan tegas mengatakan bahwa kasus beberapa broker jangan dijadikan acuan untuk menilai broker secara keseluruhan.
"Jangan digeneralisir dong. Broker-broker lainnya masih bagus kok," ujar Dandossi.
Senada dengan Guntur, Dandossi juga menekankan, bahwa struktur permodalan broker
merupakan faktor yag paling harus diperhatikan dalam memiih broker. Kendati tidak secara tersurat, Dandossi mengatakan bahwa di tengah kondisi pasar modal dan krisis keuangan global seperti ini, broker-broker pelat merah boleh dikatakan termasuk dalam kategori broker yang aman secara permodalan.
"Saat ini, mungkin broker-broker pelat merah bisa dikatakan termasuk yang paling aman untuk investasi, karena permodalan mereka kuat karena didukung pemerintah," ujarnya.
Jika mengacu pada nilai MKBD sekuritas plat merah, maka urut-urutannya adalah PT Bahana Securities Rp 387,248 miliar, PT Mandiri Sekuritas Rp 106,439 miliar, PT Danareksa Sekuritas Rp 70,681 miliar dan *PT BNI Securities Rp 34,332 miliar.
Tiga perusahaan yang disebut pertama di atas juga menduduki peringkat 5 besar sebagai penjamin emisi obligasi di tahun 2008. Mandiri Sekuritas menduduki peringkat teratas dengan nilai emisi sebesar Rp 7,133 triliun, dilanjutkan oleh Danareksa Sekuritas dengan nilai emisi Rp 1,792 triliun.PT Indo Premier Securities menduduki peringkat ketiga dengan nilai emisi Rp 1,217 triliun, kemudian dilanjutkan PT CIMB-GK Securities Indonesia dengan nilai emisi Rp 1,050 triliun. Sementara Bahana menduduki peringkat kelima dengan nilai emisi Rp 892 miliar.
Sumber detik finance
Selasa, 13 Januari 2009
Berita Hari ini
Tiga kali IHSG terkoreksi dan menembus level psikologis 1.400, tiga kali pula indeks berhasil bertahan dan ditutup diatas level tersebut. Auto rejection bawah saham BUMI di hari kelima dan koreksi signifikan saham INCO, SMGR, TLKM, BBCA dan BNII belum cukup untuk menekan indeks kebawah level 1.400. Sejumlah saham bahkan masih mampu menguat cukup tajam seperti ASII, UNVR dan ADRO. Beberapa saham lainnya naik hingga batas auto rejection seperti INDY, SULI dan MDLN. Antisipasi pengumuman penurunan harga BBM oleh pemerintah terbukti masih memiliki pengaruh positif terhadap beberapa saham konsumtif seperti ASII, UNVR dan sektor properti. Saham PTBA terkoreksi setelah naik tajam sehari sebelumnya karena rencana pemerintah Sumsel membangun rel kereta api pengangkut batubara senilai US$1 miliar sangat menguntungkan bisnis perseroan kedepan. Sementara penurunan saham BUMI kelihatannya masih akan berlanjut hari ini, kecuali BUMI membatalkan rencana akuisisi atas tiga atau setidaknya dua perusahaan terakhir yaitu Fajar Bumi Sakti dan Pendopo Energi Batubara. Sangat jelas bahwa Keluarga Bakrie menjadikan BUMI sebagai sapi perah dengan rencana akuisisi perusahaan terafiliasi tersebut.
Outlook IHSG hari ini diprediksi tidak lebih baik dari kemarin walaupun pemerintah telah memutuskan untuk menurunkan harga BBM yang mulai berlaku 15 Januari. Sentimen negatif dari Wall Street akan mempengaruhi pasar saham Asia hari ini. Sedangkan turunnya kembali harga minyak mentah ke level US$37 per barrel jelas tidak menguntungkan bagi saham-saham komoditas dan dapat menjadi pemicu aksi ambil untung. IHSG sekali lagi akan berada dibawah level 1.400 dan mencoba bertahan diatas level 1.380. Indikator stochastic oscillator sebenarnya memiliki potensi cukup besar untuk menekan indeks secara masif, namun membaiknya indikator makro ekonomi tidak memberi alasan kuat kepada pemodal untuk melakukan aksi jual besar-besaran. Sedangkan antisipasi Wall Street atas keluarnya laporan keuangan emiten tahun 2008 akan mendominasi sentimen pasar global hingga akhir Januari mendatang. Namun indeks Dow
Jones telah turun 540 poin dalam empat hari terakhir ini sehingga sebagian dari informasi negatif dari laporan keuangan emiten mulai terdiskon.
Penawaran tender 24,2% saham Indosat (ISAT) oleh Qtar Telecom diperkirakan paling cepat pada 20 Januari 2009, mundur dari perkiraan sebelumnya 16 Januari 2009. Proposal memang sudah diajukan pihak Qtel ke Bapepam-LK, namun pernyataan efektif agak lama karena menyangkut dual listing Indosat. Jika tidak ada hambatan maka pernyataan efektif penawaran tender Indosat akan dikeluarkan Bapepam pada 16
Januari 2009. Namun demikian, saat ini realisasinya masih belum dapat dipastikan jadwalnya. Selain di BEI, Indosat juga tercatat di New York Stock Exchange (NYSE), AS. Menurut Bapepam LK masih ada beberapa hal yang perlu dibereskan dulu karena mekanisme antara kedua bursa tersebut berbeda. Sebelumnya Bapepam LK mengemukakan Qtel telah memasukkan penyataan tender offer pada 8 Januari 2009.
Humpuss Intermoda Transportasi (HITS) akan mengakuisisi seluruh saham Humpuss Trading. Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan kepada pemegang saham dalam RUPSLB HITS pada Jumat (16/2). Selain akuisisi Humpuss Trading, manajemen HITS juga akan meminta persetujuan pemegang saham tentang perubahan anggaran dasar, persetujuan perubahan anggota direksi dan dewan komisaris serta persetujuan prinsip penjualan kembali seluruh saham perseroan dalam treasury stock dan investasi proyek pembangkit tenaga listrik di Bali dan Kalimatan.
Bapepam – LK menilai rencana Bumi Resources (BUMI)mengakuisisi tiga perusahaan dibidang batubara senilai total Rp6.18triliun melangkahi wewenang otoritas bursa tersebut. Bapepam – LK melihat pemeriksaan terhadap rencana akuisisi BUMI penting karena bernilai Rp6.18triliun Darma Henwa (DEWA) menegaskan pengambilalih saham
saham perseroan oleh Bumi Resources Investment tak mengubah pemegang saham pengendali. Perseroan menyatakan pada 23 Desember 2008 memang terjadi pengalihan saham yang dilakukan Goodrich Management Corp atas kepemilikan saham perseroan sebesar 80 % di Zurich, namun tak menyebabkan adanya perubahan pengendali. Hanya saja pengambilalihan oleh Bumi Resources Investment memberikan jamin lebih pasti atas sejumlah kontrak pertambangan milik perseroan.
Indoexchange (INDX) akan merambah ke bisnis jasa kelautan dan jasa pelabuhan, sesuai dengan bidang usaha yang digeluti pemegang saham utama, yakni Integrax Bhd. Ekspansi usaha ini akan direalisasikan dengan mengakuisisi Radikal Rancak Sdn Bhd. , yang dikuasai sepenuhnya oleh Integrax. Sumber pendanaan untuk akuisisi rencananya dari penerbitan saham baru alias rights issue. Bahkan untuk aksi korporasi ini perseroan sudah memiliki pembeli siaga (standby buyer).
Lautan Luas Singapore Pte Ltd, anak usaha Lautan Luas (LTLS) telah melepas 25 % saham kepemilikannya di Jiangsu Jingseng Salt Industri Co Ltd. Tidak disebutkan nilai penjualan saham tersebut.
Matahari Putra Prima (MPPA) tidak akan meneruskan merek Parisian, perseroan akan mengubah kembali Parisian menjadi merek Matahari. Sebelumnya merek Parisian ditujukan untuk segment market premium untuk bersaing dengan dept store
asing.
Sinar Mas Sekuritas menjual 6.2% saham Bakrie Telecom (BTEL) yang dibeli pada November 2006 Waskita Karya memutuskan menunda penawaran umum perdana (intial public offering/IPO) karena kondisi pasar modal yang tak kondusif seiring dengan terjadinya krisis ekonomi global. Perseroan menilai tahun ini tak tepat bagi perseroan untuk melepas saham ke publik meskipun sudah mendapat persetujuan dari DPR untuk melaksanakan aksi tersebut.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengemukakan, aturan baru penghentian perdagangan secara otomatis atas saham yang mengalami kenaikan atau penurunan harga dalam batas tertentu (autorejection) akan mulai diterapkan pekan depan. Saat ini BEI sedang membahas besarannya. Sistem autorejection akan dikembalikan ke pola simetris. Aturannya akan kembali ke normal, tetap simetris, namun nominalnya disesuaikan dengan kondisi baru. Seblumnya krisis telah menyebabkan BEI memberlakukan utorejection asimetris, yaitu 20% batas atas kenaikan dan 10% batas bawah penurunan harga saham.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memangkas suku bunga wajar simpanan dalam mata uang rupiah di bank umum yang ditetapkan lebih rendah 50 basis poin menjadi 9,5%. Begitu
pula untuk bunga penjaminan di bank umum dalam mata uang dolar AS turun 50 basis poin dari 3,5% menjadi 3%. Sedangkan bunga simpanan di Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
tidak berubah dari periode sebelumnya alias tetap sebesar 13%.
Gloomy financial outlook drags profit predictions down
NEW YORK — The deepening recession is making it harder for companies to make money, prompting analysts to slash profit outlooks and investors to dial down their early-year optimism.
Profit woes once centered mostly in the financial and consumer sectors have spread to virtually every corner of the economy. With jobs vanishing and pinched consumers shopping less, CEOs running businesses that sell aluminum, computer chips, movies and all types of consumer goods are ratcheting down profit expectations. They also are offering little insight on when business will pick up.
That's fanning fears that the economic and profit recoveries will take longer than expected. Stocks typically turn up in advance of a recovery. "The question is, when do we get the rebound?" says John Butters, director of U.S. earnings at Thomson Reuters.
Pessimism about eroding economic data is clashing with optimism aboutPresident-elect Barack Obama's promised stimulus package.
The bleak outlook, which was reinforced by 524,000 job losses in December — the second-consecutive month that more than half a million people got pink slips — is spooking investors. An early-year rally has fizzled, with stocks falling the past three sessions, erasing a 3% gain. The Dow Jones industrials closed Friday at 8599, leaving it down 2% in 2009.
Job losses are causing a negative feedback loop, says Jack Ablin, chief investment officer at Harris Private Bank. "When jobs disappear, you lose spending and you lose profits, and then you lose more jobs. It feeds on itself," he says. Signs of the gloom:
•Rising warnings. The number of Standard & Poor's 500 company reports saying that profits will be worse for the final quarter of 2008 are outpacing positive ones by more than 4-to-1, double the long-term average, Thomson Reuters says. Earnings reporting season for the final quarter of 2008 starts this week with aluminum maker Alcoa stating results today.
•Contracting projections. As recently as Oct. 1, analysts, who have a reputation for erring on the optimistic side, thought profits would turn positive in the just-completed quarter and were expecting profit growth of 46.7% for the S&P 500. As of Friday, they were expecting a drop of 15.1%. A big chunk of the lower forecast has come in 2009, with expectations falling from a drop of 1.2% on Jan. 1.
Those same analysts on Oct. 1 estimated profit growth of 25% or more for both the first and second quarters of 2009. Not anymore. Now, profits are expected to drop more than 12%. Growth may not return until the final quarter of 2009. "Earnings forecasts will keep falling," warns Timothy Vick of Sanibel Captiva Trust.
by Adam Shell
Selasa, 06 Januari 2009
News hari ini
Kenaikan tajam IHSG pada hari pertama perdagangan saham tahun 2009 kemarin telah sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar menyusul melonjaknya mayoritas indeks bursa saham global pada momentum yang sama. Sejumlah besar saham, terutama saham-saham komoditas, menguat lebih dari 10% dengan beberapa diantaranya hingga atau dekat batas autorejection atas 20% seperti AALI, UNTR, ITMG, INCO, DEWA dan TINS. Otoritas bursa belum merealisasikan rencananya untuk membuka batas atas dan bawah auto rejection kembali ke batas normal sebelum krisis yaitu hingga 30%. Penguatan indeks
semakin bertambah pada sesi kedua bursa setelah BPS mengumumkan figur inflasi Desember yang mencatat deflasi sebesar 0,04% dengan inflasi setahun sebesar 11,06% atau sedikit dibawah target APBN-P yang sebesar 11,4%.
Penurunan inflasi memperbesar harapan pemodal akan turunnya kembali suku
bunga sehingga saham-saham yang sensitif seperti saham perbankan dan otomotif pun kembali diburu. Harga saham BBRI, BMRI, BDMN dan ASII mencapai level tertinggi barunya pasca krisis. Harga saham BBCA bahkan tertinggi sejak Februari 2008 atau jauh lebih tinggi dari harga pra-krisis.
Memasuki pergantian tahun pelaku pasar global menemukan kepercayaan diri yang lebih baik akan pulihnya perekonomian dari krisis ekonomi terburuk sejak Depresi Besar 1930. Kepercayaan pasar berangkat dari campur tangan pemerintahan global yang secara aktif dan agresif memberikan stimulus karena roda perekonomian yang dijalankan sektor privat terhenti oleh krisis kredit. Paket stimulus ekonomi Amerika yang diusulkan oleh ekonom kepada Obama mencapai US$1,3 triliun, namun Obama kemungkinan akan mengajukan stimulus sebesar US$775 miliar, termasuk pemotongan pajak sebesar US$300 miliar.
Pemerintahan SBY yang memiliki anggaran lebih karena turunnya subsidi BBM
pun telah mengucurkan stimulus fiskal berupa PPN dan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah sebesar Rp12,5 triliun kepada 31 sektor industri. Naiknya harga sejumlah komoditas seperti CPO dan batubara dalam beberapa pekan terakhir juga dapat mengindikasikan perekonomian masih tumbuh untuk menyerap komoditas tersebut. Agresi militer Israel kemudian menjadi katalis yang mempercepat kenaikan harga komoditas lainnya, terutama minyak mentah.
Penembusan neckline 1.380 akhirnya mengkonfirmasi pola double bottom pada IHSG yang saat ini berpeluang menuju target barunya disekitar level 1.470.
Timah (TINS) menargetkan pendapatan tahun ini sama dengan pendaoatan tahun lalu. Harga komoditas timah yang tidak menentu menyebabkan perseroan tidak berharap banyak terhadap pertumbuhan 2009. Penjualan 2008 diperkirakan hanya mencapai Rp 6.8 triliun dibanding 2007 sebesar Rp 8.5 triliun, smentara laba bersih diperkirakan hanya mencapai Rp 6.8 triliun dibanding 2007 sebesar Rp 8.5 triliun.
Bumi Resources (BUMI) melalui anak perusahaan Bumi Resources Investment mengakuisisi 80 % saham Zurich Asset Investment Ltd. Penandatanganan pembelian saham dilakukan antara Bumi Resources Investment dengan Goodrich Management pada 23 Desember 2008. Dengan demikian, BUMI secara tidak langsung menguasai 44 % saham Darma
Henwa T (DEWA) karena Zurich merupakan pemilik 55 % saham DEWA. Total saham kepemilikan BUMI bakal bertambah menjadi 64,43 persen karena sebelumnya sudah menguasai 20,43% saham.
Laba bersih per september 2008 Bakrie & Brothers (BNBR)naik 439,7 % menjadi Rp885,739 miliar dari Rp164,11 miliar di periode sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan naik menjadi Rp6,38 triliun dari Rp3,28 triliun dan laba usaha
menjadi Rp952,15 miliar dari Rp540,15 miliar. Perseroan meraih pendapatan lain-lain Rp125,71 miliar dari beban lainlain Rp152,17 miliar sehingga laba sebelum pajak menjadi Rp1,077 triliun dari Rp387,97 miliar.
Medco E& P anak usaha Medco Energi Internasional (MEDC) tahun ini menyiapkan capex sebesar USD 325 juta, lebih besar dari tahun lalu yang sebesar USD 225 juta. Perseroan memperkirakan produksi minyak dan kondensat pada tahun 2009 akan turun dibandingkan tahun lalu. Pada tahun 2009, produksi minyak ditargetkan 39.000 barel per hari atau turun dibandingkan 2008 yang 43.000 barel per hari.
Pada tahun ini, belanja modal dialokasikan mencapai 325 juta dolar AS atau naik dibandingkan tahun 2008 yang 225 juta dolar AS. Selain itu Medco masih menunggu perpanjangan Blok A selama 20 tahun. Kontrak kerja sama Blok A akan habis tahun 2009. Sesuai target, Blok A akan mulai berproduksi gas tahun 2011 sebesar 110 juta kaki kubik per hari. Medco sudah menandatangani kontrak pasokan gas dengan pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan PT PLN (Persero).
Darma Henwa (DEWA) menguasai 85% saham SumbawaBarat Sejahtera Bersama (SBSB) yang memiliki kuasa pertambangan seluas 23 ribu ha di Bukit Baru Biru Brang Rea dan Brang Ene Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, sementara sisanya dimiliki pemerintah kabupaten Sumbawa Barat. Perseroan ingin secepatnya melakukan eksplorasi tapi untuk sementara hanya akan melanjutkan aktivitas operasional yang
sudah dijadwalkan.
Qatar Telecom (Qtel) akan mengajukan prospektus rencana penawaran tender (tender offer) 24,2% saham publik Indosat (ISAT) ke Bapepam-LK paling lambat pada 9 Januari 2009. Qtel telah memberikan komitmen untuk mendaftarkan pelaksanaan penawaran tender kepada Bapepam pada pekan pertama 2009.
4 bank menyatakan kesanggupannya untuk mendanai capex Telekomunikasi Indonesia (TLKM) sebesar Rp8 triliun. Keempat bank tersebut yakni Bank Tabungan Negara, Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Nasional Indonesia (BBNI), dan Bank Mandiri (BMRI). Secara informal, bankbank tersebut menyanggupi rencana Telkom mencari dana (Capex) sebesar Rp8 triliun.
Excelkomindo Pratama (EXCL) mengajukan penawaran harga 10% lebih murah untuk penambahan spektrum frekuensi 3G dari harga yang ditetapkan Depkominfo sebesar
Rp 160 miliar per 5Mhz. Perseroan dapat mengajukan keberatan yang disertai data pendukung yang kuat jika menginginkan harga penambahan spektrum 3G dibawah harga
yang diputuskan Depkominfo.
Adhi Karya (ADHI) memproyeksikan pertumbuhan proyek infrastruktur tahun 2009 mencapai 15% dari tahun lalu. Apalagi perseroan masih ditopang beberapa proyek carry over alias yang masih akan berlanjut dan selesai di 2009.
Sementara untuk pendapatan tahun ini perseroan menargetkan meraih Rp6,7 trilyun ketimbang tahun 2008 yang dipatok Rp6 trilyun. Diharapkan laba bersih tahun 2009 bisa mencapai Rp160 milyar atau naik sekitar 10 % dari target tahun ini. Kinerja perseroan tahun ini masih akan ditopang dari proyek jalan tol Kanci-Pejagan sepanjang 3,2 km yang menelan biaya Rp900 milyar plus pengadaan Tabung Gas LPG
3 kg dengan nilai kontrak Rp1,6 trilyun, pembangunan PLTU Lampung 2x100 MW dengan nilai kontrak Rp2 trilyun dan proyek Pemkab Bandung dengan nilai kontrak Rp335 milyar.
Belum lagi ditambah proyek-proyek konstruksi di Timur Tengah. Jasa Marga (JSMR) menuding Marga Nujyasumo Agung (MNA) telah membatalkan perjanjian kerja proyek tol Surabaya - Mojokerto secara sepihak, karena pembatalan tersebut tidak
disertai penjelasan yang menyebutkan Jasa Marga bertindak tanpa mengacu pada perjanjian yang ada. Perseroan menyatakan sebagai salah satu pemilik saham MNA sudah
seharusnya perseroan mendapatkan prioritas untuk meningkatkan kkepemilikanya di MNA.
Manajemen Bank Mandiri (BMRI) mengincar perolehan Return on Equity (ROE) sebesar 18.8% pada tahun ini lebih besar dari tahun lalu sebesar 18%. Seiring dengan penurunan suku bunga NIM 2009 juga akan dijaga diatas 5.3%. Perseroan juga berencana melakukan akuisisi bank kelas menengah pada kuartal II.
Kalbe Farma (KLBF) telah membeli kembali 74,001 jutasahamnya senilai Rp30,032 miliar hingga 30 Desember 2008. Pembelian kembali saham (PKS) tersebut dilakukan oleh
Danareksa Sekuritas. Sementara jumlah saham yang akan dibeli kembali perseroan maksimum 518,339 juta unit (5,1%) dari saham disetor. Pembelian kembali saham untuk
meningkatkan kinerja saham perseroan di BEI, menaikan nilai laba bersih per saham dan rasio laba bersih terhadap modal sendiri, serta menjaga stabilitas harga saham.
Pertiwi Indonesia selaku pemegang saham Central Proteinatama (CPRO) menjual lebih dari separuh jumlah saham (11.38 miliar saham) kepada 6 pihak: Raintrees Assets
Inc, Bedarra Ventures Inc, Tara group Inc, Arcotel Pacific Ltd, Elite One Corporation dan Enchanted Rise Investnents.
Akibat Krisis global Suryaintrindo Makmur (SIMM) mengalami penurunan pesanan hingga 80 %. Penurunan pesanan ini akibat adanya pembatalan pesanan yang terlihat
pada laporan september 2008. Hal ini mendorong perseroan menawarakan program pengunduran diri kepada karyawan yang berniat mundur dan hingga kini sudah terlaksana
sebanyak 1800 karyawan.
HD Capital (HADE) memproyeksikan rugi bersih tahun 2008 mencapai Rp 10 miliar dibanding tahun sebelumnya yang meraih laba bersih Rp 32.71 miliar. Kerugian terjadi akibat pendapatan jasa broker saham turun setelah IHSG anjlok,padahal bisnis broker memberikan sumbangan sebesar 60% terhadap pendapatan konsolidasi.
Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart), akan menawarkan 343,2 juta saham pada penawaran perdana ke publik. Saham bernominal Rp100 ditawarkan pada 7-9 Januari 2009 dengan harga Rp395 per saham. Seluruh hasil penjualan saham itu akan digunakan untuk ekspansi bisnis, terutama di bidang distribusi barang-barang dan pembukaan gerai-gerai baru.
Penawaran perdana saham Alfamrt telah memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam pada 31 Desember 2008. Direksi telah menunjuk Ciptadana Securities dan Indopremier Securities sebagai penjamin emisi (underwriter). Saham Alfamart akan dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 15 Januari 2009.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi pada tahun 2008 sebesar 11,06%, sedangkan khusus untuk bulan Desember terjadi deflasi sebesar 0,04%. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan pada penurunan indeks kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 2,74%. Sementara yang mengalami kenaikan harga adalah kelompok bahan makanan 0,57%, dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,52%.
BEI mempertimbangkan delisting 2 emiten pada kuartal I 2009. Kedua emiten ini adalah Asia Natural Resources (ASIA) dan Jaka Inti Realtindo (JAKA). BEI hingga kini
masih memantau komitmen manajemen perseroan terkait kelangsungan bisnisnya. BEI memberikan tenggat hingga akhir Q1 2009 untuk meningkatkan aktivitas usahanya, apabila hingga waktu tersebut dianggap tidak memenuhi persyaratan akan di-delisting. Sementara untuk saham Asia Natural Resources (ASIA) yang disuspen sejak Maret 2006, BEI masih menunggu realisasi rencana bisnis baru perseroan yang merambah bisnis pertambangan.
Jumat, 02 Januari 2009
Expert predictions: Stock market could be good in 2009
NEW YORK — Stock market forecasts tend to be sunny, and 2009 is no exception. Wall street gurus are again predicting gains. But this year's bullish market call comes with an asterisk.
Wary stock strategists, unsure how the worst financial crisis since the Great Depression will play out, are hedging their bets. Rather than just sharing an opinion about what they think is the most likely outcome for stocks in their '09 outlook reports, some strategists are including worst-case and best-case market scenarios that reflect lower-probability outcomes — but ones that can't be ruled out.
Welcome to the new world of uncertainty on Wall Street.
After a year of tumult, highlighted by the near collapse of the financial system in 2008, the worst recession in almost 30 years and the biggest stock market decline since 1937, many investment pros appear hesitant to declare with 100% certainty that stocks will finish the year in the plus column.
In his 2009 outlook, for example, Morgan Stanley's Abhijit Chakrabortti lays out his base case — a 975 year-end close for the Standard & Poor's 500 index, or an 8% gain, based on Wednesday's close of 903.25 — as well as a scary bear case (-56%) and a super-optimistic bull case (+32%). Three distinct market scenarios are also outlined by LPL Financial chief market strategist Jeffrey Kleintop.
"The road to recovery is likely to be a bumpy one," Kleintop wrote in his outlook piece titled "Time to Opine on 2009."
"What happens further along the road depends on which fork the financial crisis takes us down. The heightened uncertainty … surrounding the economy and policy backdrop generates a wider range of possibilities than for most years."
A recent Citigroup survey of institutional investors reflects the wide disparity of potential performance outcomes for stocks next year. More than 20% expect the S&P 500 to rise 11% to 22% in 2009. But more extreme predictions — both pessimistic and optimistic — were also evident. About 15% think stocks could fall as little as 12% or as much as 39%. And about 15% said stocks could post gains ranging from 44% to 55%.
Here are three potential outcomes for the battered stock market in the new year:
1 ... Base case
This scenario assumes an economic recovery around midyear and a rebound in the stock market, which is a forward-looking animal, by year's end. It is deemed the most likely outcome given the time needed to ease the current stresses undermining investor confidence and zapping the strength of the financial system, credit markets and broader economy.
The base case is, in effect, the consensus opinion on Wall Street. A review of a half-dozen year-end S&P 500 price targets from top strategists suggests that stocks could rebound 8% to 22%.
The key underpinning of this outlook is a belief that the panic that gripped investors around the globe last year will begin to ease in the early stages of 2009, paving the way for a more normal functioning of financial markets in the months that follow, according to Kleintop.
An immediate economic recovery, given the dearth of consumer confidence caused by a weak holiday shopping season and rising joblessness, is wishful thinking. However, the outlook is expected to brighten when there are visible signs that the unprecedented government intervention that began in late 2008 — and that is likely to continue with the incoming Obama administration's massive stimulus plan — is starting to work.
"Let's not fall into this despair trap," Tobin Smith of ChangeWave noted in a recent self-described "rant" titled "As 2008 Ends, There's Hope for 2009."
"The U.S. economy will recover," he wrote. "We as a country are a 'going concern,' and this ain't the end of civilization as we know it. The monetary and fiscal policy of 'no Depression at any cost' will save us from the unnecessary brutality the U.S. witnessed in the 1930s."
As the economy emerges from recession, the profit power of U.S. companies will improve, providing investors with a real fundamental reason to buy stocks. Another building block that supports this base case, according to Morgan Stanley's Chakrabortti, is that stocks are priced attractively after a 38% drop in 2008. Based on analysts' 2009 profit projection of $77.35 for the S&P 500, the market is trading at 11.7 times next year's profit stream, below the long-term historical price-earnings ratio, or P-E, of 15, according to Thomson Reuters.
Even if you plug in more dire earnings predictions, such as the $53 expected by Chakrabortti, the market is selling at 17 times earnings, which is not considered expensive. "Valuations," he says, "are highly supportive" and a reason to be positive on stocks.
Other factors bolstering the case for double-digit gains in '09 include the fact that expectations for economic growth are super-depressed and investor skepticism is super-high. Those acute levels of pessimism increase the chances of an upside surprise if things don't turn out as bad as doom-and-gloomers warn.
"Risk aversion turns to greed later in 2009," Thomas Lee, U.S. equity strategist at JPMorgan Chase, predicts in his outlook report. "An economic recovery will spur risk appetite. At some point after mid-2009, the tailwinds of lower gas prices, fiscal stimulus and housing stabilization should generate a sustainable rally."
That's not to say stocks won't be volatile. Lee says investors should prepare for both violent rallies powered by optimism surrounding the government bailouts, as well as discouraging declines prompted by the reality of horrific corporate earnings until the recovery takes effect.
2 ... Bearish case
It's no fun even to entertain thoughts of another year like 2008, which wiped out $6.9 trillion in shareholder wealth, according to Dow Jones Indexes. But it's better to be prepared for the worst than enter the year overly complacent.
Under this scenario, the financial crisis drags on for another year, putting yet more downward pressure on stock prices. Downside for the S&P 500 is severe, with the benchmark index careening down to 560, a 38% loss, according to Kleintop. Morgan Stanley's Chakrabortti says there is a 25% probability that the S&P 500 could fall as low as 400, a stunning annual loss of 56%.
"Our bear case is driven by much weaker growth and an outright deflationary environment," Chakrabortti notes. Under this scenario, economic growth in the U.S. would come in at negative 2% to 3% vs. 2008, which would be the first year of economic contraction since 1991, according to the Bureau of Economic Analysis.
In short, 2009 would look a lot like 2008, a year most investors want to forget. The recession that began in December 2007 would extend its destructive path for another 12 months, and frozen lending markets would fail to thaw despite the massive response from the nation's central bank, U.S. lawmakers and the Treasury Department.
"The bad news is that our economy is broken, and there is nothing the government can do to fix it," argues longtime bear Peter Schiff, president of Euro Pacific Capital.
Sparking the economic free fall will be another leg down for the already depressed housing market, which would result in a new wave of bank losses, foreclosures, job losses and economic anxiety, Schiff says.
Further deterioration in the outlook for economic growth both in the USA and once-hot emerging economies such as China is likely to drag down both corporate profits and the prices of all kinds of financial assets, ranging from soybeans to stocks.
That could spark a fresh wave of forced selling by large financial institutions, such as hedge funds and mutual funds, that need to raise cash quickly to meet redemption requests from investors, Kleintop warns. The risk of this sell-because-you-have-to-sell frenzy could spark a vicious downward spiral, like the kind experienced in October when stocks were in free fall.
Fears of a hard economic landing could also intensify the deflationary forces already in motion, triggering concern that the U.S. could suffer a lost decade similar to the one experienced by Japan in the '90s after its stock market and real estate bubble burst.
3 ... Bullish case
This case is simple: The turn in the economy, credit markets and corporate profitability comes faster, and the bounce is bigger than even the biggest proponents of a big '09 rebound predict. This optimistic view assumes that the financial panic does a disappearing act at the start of the year, restoring a sense of stability and hope to financial markets and investors.
"Freed from such stark fears, such as depression or something like it, stocks should rise," Lord Abbett market strategist Milton Ezrati said in a recent report, "Recipe for 2009: Add a Pinch of Optimism to That Eggnog."
The bullish case, if it comes to fruition, would result in big profits for investors. Kleintop's high-end, year-end target on the S&P 500 is 1365 — a 51% gain. On the lower end of the mega-bull range is Chakrabortti's target of 1190, or a 32% advance. However, Chakrabortti sees only a 20% probability of this optimistic scenario unfolding.
So how would markets get so well so fast after the worst showing since the Great Depression?
The major wild card would be if the prescription to fix the economy — lower interest rates, government-driven stimulus initiatives and an emphasis on job creation — works sooner than expected and puts a quick end to the recession, helps home prices bottom and helps thaw frozen credit markets more quickly, Kleintop says.
If that were to occur, investor and consumer confidence would enjoy a much-needed boost. Consumers now hoarding cash for fear of losing their jobs would start spending again, propelling a rebound in corporate profitability. And risk-averse investors who now think it is safer to stuff their spare cash under the mattress will start taking risks again in search of larger returns, adds JPMorgan's Lee.
Financial markets, Lee predicts, will refocus their attention on emerging tailwinds as opposed to the gruesome headwinds that kept them on the sidelines in 2008. Stock values will rise as the mountain of cash sitting on the sidelines is put back to work in stocks, creating a demand for shares that has been absent since the financial panic broke out last fall.
Richard Bernstein, chief investment strategist at Merrill Lynch, sums up the new year this way: "We think that 2009 is likely to be better than 2008."
By Adam Shell, USA TODAY
